
BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 mulai masuk secara bertahap pada November 2026. Setelah periode kering yang cukup panjang akibat El Nino dan IOD, turunnya hujan tentu menjadi angin segar bagi petani sawit. Air yang kembali menyapa kebun membantu memulihkan kelembapan tanah, mendukung penyerapan hara, dan memberi ruang bagi tanaman untuk kembali tumbuh lebih optimal.
Bagi kelapa sawit, ketersediaan air sangat menentukan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi. Ketika kemarau berlangsung cukup panjang, cadangan air di tanah berkurang dan tanaman dapat mengalami tekanan. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi bisa memengaruhi pembentukan dan perkembangan bunga, keseimbangan sex ratio, perkembangan buah, hingga produksi tandan buah segar pada periode berikutnya. Karena itu, hadirnya hujan pada periode berikutnya akan menjadi momentum penting untuk membantu kebun memasuki fase pemulihan pasca El Nino dan IOD.
Namun, air hujan tetap perlu dikelola dengan baik. Hujan yang turun setelah musim kering sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja lewat dari kebun, tetapi juga tidak boleh sampai menimbulkan genangan. Di sinilah pengelolaan air menjadi penting. Petani sawit perlu memastikan saluran air, parit, dan titik pembuangan tidak tersumbat, sehingga air dapat mengalir dengan baik dan tidak mengganggu perakaran tanaman.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kemampuan kebun dalam menyerap dan menyimpan air. Praktik seperti pembuatan rorak, pemanfaatan pelepah sebagai mulsa, menjaga bahan organik tanah, serta memperbaiki tata air kebun dapat membantu memperpanjang ketersediaan air di sekitar tanaman. Dengan pengelolaan yang tepat, air hujan tidak hanya menjadi limpasan permukaan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai cadangan bagi tanaman ketika kondisi kering kembali terjadi.
Manfaat konservasi air melalui pengelolaan kebun juga telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Studi Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa pada perkebunan kelapa sawit di Lampung, penerapan rorak yang dikombinasikan dengan lubang resapan dan mulsa vertikal mampu menurunkan aliran permukaan (runoff) hingga sekitar 52,86% dibandingkan lahan tanpa perlakuan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa praktik konservasi air dapat membantu mempertahankan ketersediaan air di kebun, meningkatkan peluang tanaman untuk tetap tumbuh dan berproduksi secara optimal, sekaligus meminimalkan risiko peningkatan sedimentasi di saluran pembuangan air. Pada kondisi kelembaban tanah yang kembali mendukung setelah periode kering, kegiatan pemeliharaan seperti pemupukan juga dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Namun, pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi cuaca dan ketersediaan air agar unsur hara dapat dimanfaatkan secara efektif.
Pemupukan memerlukan pertimbangan kondisi tanah dan ketersediaan air tanah. Sebab pupuk pada saat diaplikasikan akan menghadapi risiko hilang atau terbuang apabila setelahnya terjadi hujan terlalu deras (> 35 mm), sehingga berisiko menyebabkan kerugian perusahaan secara materiil, di samping itu tanaman juga tidak memperoleh hara yang dibutuhkannya karena sebagian besar terbawa aliran air. Oleh karena itu, penerapan prinsip pemupukan 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat) menjadi penting untuk memastikan unsur hara dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman. Terlebih aspek tepat waktu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan agar pupuk tidak hilang akibat kondisi cuaca yang kurang sesuai.
Dengan pemupukan yang dilakukan secara tepat, kebutuhan hara tanaman dapat terpenuhi sehingga mendukung kesehatan tanah, pertumbuhan tanaman, dan peningkatan produksi. Dengan demikian, hujan yang kembali turun setelah periode kering tidak hanya menjadi sumber air bagi tanaman, tetapi juga menjadi peluang bagi kebun sawit untuk kembali pulih apabila dikelola dengan baik.