Presiden Prabowo sangat diapresiasi dengan tekadnya untuk membuat berbagai program swasembada, mulai urusan pangan hingga energi. Di tengah makin langkanya energi yang berasal dari fosil, kini energi hijau menjadi pilihan terbaik. Kalkulasi B-40 yang digeber awal tahun depan diperkirakan akan berjalan hanya dengan sedikit tantangan. Namun, manakala ingin menggapai B50, rasa-rasanya belum ada pejabat yang sampai tingkat hakulyakin.
Program biodiesel sejatinya bertumpuan atas keberadaan sawit yang ditanam di lahan seluas kisaran 17 juta hektare di seantero Nusantara. Walaupun sawit sering “digebuki”dari waktu ke waktu, namun tidak ada yang ikhlas menceraikannya dari kebutuhan harian umat manusia. Biodiesel hanyalah salah satu dari lebih 200-an produk turunan sawit yang kini menyesaki rak dapur, kamar tidur hingga kamar mandi. Meskipun demikian, terdapat perkiraan masih tersisanya potensi 30 persen dari sawit yang saat ini belum tergarap.
Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, program B40 memang digadang-gadang dapat terlaksana begitu awal tahun 2025 berjalan. Begitu dinilai sudah berjalan, maka Pemerintah segera melangkah untuk mempersiapkan bauran diesel sebanyak 50 persen dari unsur sawit (B50). “Konversi dari B35 ke B40, 1 Januari (2025) sudah harus jalan. Setelah itu kita persiapkan untuk B50. Kita sudah siap. Karena kalau B50 sudah kita lakukan maka kita tidak lagi impor solar,” ujar Bahlil sebagaimana dikutip oleh Majalah Sawit Edisi 157 (15/11-15/12 2024).
Dalam hitung-hitungan yang ada, memang feedstock kita lumayan cukup untuk sebagian diantaranya dikonversi menjadi B40. Hanya sedikit mengurangi minyak sawit yang tahun-tahun sebelumnya menjadi komoditas ekspor. Yang jelas juga, B40 tidak akan menganggu aneka kebutuhan pangan yang berasal dari sawit, khususnya minyak goreng. Pemerintah sepertinya akan menjaga mati-matian agar minyak goreng yang menjadi kebutuhan masyarakat umum Indonesia dari unsur ketersediaan dan keterjangkauan harganya.
Konon kabarnya, Kementerian ESDM kini sedang berusaha keras agar segala yang dapat menyukseskan B40 ditempuh dengan program kilat, misalnya pembangunan infrastuktur seperti jetty yang akan meningkatkan kapasitas pelabuhan. Bahkan pergudangan dan alat transportasi juga dipastikan sudah aman semuanya.
Dari sisi kalangan pengusaha, tampaknya B40 juga dapat diterima meski sedikit menggerus sebagian ekspor CPO. Mereka bisa memahami, pentingnya capaian Pemerintah dalam menghemat devisa melalui pengurangan impor solar yang harganya kadang berfluktuasi. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan peningkatan dari B35 menuju B40 dapat melenggang.
Yang masih menjadi pertanyaan banyak pihak adalah peningkatan dari B40 ke B50. Walaupun Presiden Prabowo pernah berniat meningkatkan menjadi B100, rupanya kini pejabat Pemerintah sangat hati-hati untuk bisa menjanjikan pelaksanaan B50. Sepertinya mereka sedang melakukan wait and see tentang implementasi B50 karena akan menuai banyak tantangan yang tidak mudah dilalui.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengakui bahwa pihaknya terus berhitung tentang berbagai kemungkinan pelaksanaan B50. Ia secara gamblang kepada Majalah Sawit Indonesia, ingin memastikan ketersediaan stok CPO (feedstock) dan juga pembuktian peremajaan kebun sawit berjalan dengan baik.
Sepetinya kini Pemerintah sudah memahami benar masalah yang terkait dengan feedstock dan relasi positif antara feedstock dan peremajaan kebun sawit, khususnya milik petani. Dua hal ini saling tergantung dan memerlukan waktu cukup panjang untuk menyelesaikannya. Kalau jalan pintas dengan lebih memangkas ekspor CPO, maka kemungkinan dampaknya akan lebih runyam: pendapatan pajak turun serta membiarkan negara lain mangakuisisi pasar CPO yang selama ini telah menjadi langganan kita.
Sebagaimana diketahui, kegiatan replanting sawit rakyat yang sudah diatas 30 tahun berjalan lambat, walau sudah ada insentif Rp 60 juta per hektare. Selain masalah tumpang tindih lahan dengan kawasan hutan yang belum terurari hingga saat ini, soal administrasi juga masih sering dikeluhkan oleh masyarakat. Akibatnya, tanaman tua dengan produktifitas kecil tetap dipertahankan sambil menunggu kemungkinan kebijakan baru yang lebih menguntungkan. Andaikan misalnya replanting berjalan sangat lancar mulai 2025 mendatang, maka panen perdananya baru tahun 2028.
Jika demikian adanya, naga-naganya B40 bisa jadi akan merupakan capaian tertinggi untuk biodiesel sampai kemudian mampu diraih produktifitas yang lebih baik, setelah terurainya berbagai hambatan, pada kurun waktu tahun 2028, 2029, atau 2030. ()