Gaya hidup slow living yang belakangan ini kembali populer di jagat maya ternyata telah lama dijalankan para petani sawit. Alih-alih menghabiskan waktu setiap harinya untuk bekerja, jam kerja sebagian besar petani sawit di kebunnya tercatat hanya kisaran 13 jam per bulan. Kaum pekerja nine-to-five di kota-kota besar tampaknya layak iri dengan kehidupan slow petani sawit. Lalu apa yang dilakukan dalam slow living tersebut?
Sekilas, melihat dari kebanyakan komentar warganet di media sosial dapat disimpulkan bahwa slow living kini semakin menggejala dan menjadi dambaan banyak orang. Terperangkap dalam rutinitas yang menghabiskan waktu hanya untuk bekerja tiada henti dianggap membuat hidup berlalu kurang makna. Slow living yang menekankan manusia untuk menikmati setiap momen yang dijalani dianggap solusi jitu untuk lebih memaknai hidup plus mencapai kebahagiaan.
Meski terkesan hidup santai, soal kesejahteraan petani sawit jangan ditanya. Rata-rata petani sawit di Indonesia mengaku hidup berkecukupan. Eko Nurhuda misalnya, yang merupakan seorang petani kelapa sawit di Talang Datar, Jambi, dalam artikelnya di kompasiana.com (29/12) berkisah dari kebun seluas 2 hektare yang dimilikinya rata-rata dapat dihasilkan 1,3 ton TBS setiap kali panen. Dengan harga TBS akhir tahun 2024 Rp 3.500 per/kg, dengan demikian penghasilan Eko sekali panen pada kisaran Rp. 4.550.000. Karena sawit dipanen per dua minggu, maka dalam sebulan Eko bisa meraup Rp. 9.100.000.
Angka 9 juta rupiah yang Eko dapatkan setiap bulannya memang tidak fantastis. Apalagi bila dipadankan dengan besarnya penghasilan agar hidup layak di Jakarta yang mencapai 15 juta rupiah. Tetapi yang menarik di sini adalah betapa tidak seberapanya effort petani sawit untuk mendapat pemasukan yang lumayan seperti Eko. Aktivitas sehari-harinya nyaris bebas dari stress dan tekanan. Ia hanya dua kali sebulan ke kebunnya untuk memetik buah.
Saking santainya hidup petani sawit, Heri Santosa, seorang petani sawit senior yang memiliki 10 hektare lahan di Labuhan Batu Selatan bahkan berpendapat bahwa tanaman kelapa sawit membuat para petani menjadi ‘pemalas’. Bukan tanpa alasan, perawatan sawit yang tidak ribet menjadikan petani hanya perlu sesekali saja turun ke kebun. Perawatan yang diperlukan hanya pemupukan sekali per 4-5 bulan, membersihkan rumput sekali per 3-4 bulan, dan memangkas pelepah setiap setahun sekali.
Petani yang tanaman sawitnya berusia lebih dari tiga tahun alias sudah menghasilkan, rata-rata dalam sebulan hanya 2 kali saja pergi ‘bertandang’ ke kebun untuk memanen. Berbeda dengan kebanyakan pekerja kantoran di kota-kota yang mesti berjibaku mengais rezeki rata-rata lima hari dalam seminggu atau sekitar 20 hari dalam sebulan.
Dengan waktu luang yang ada, petani sawit memiliki kesempatan lebih untuk dapat fokus pada kualitas hidup serta menemukan hal yang benar-benar membahagiakan. Mulai dari menekuni hobi seperti bercocoktanam aneka tanaman hias, beternak, membuat konten media sosial, aktif dalam kegiatan sosial hingga menjalankan bisnis lainnya. Selain itu, satu hal sudah pasti, petani sawit punya banyak waktu bersama keluarga, dimana hal ini merupakan salah satu aspek terpenting dalam konsep slow living yang gencar dibahas di media sosial.
Bukan sekadar keuntungan ekonomi, luangnya waktu yang dimiliki para petani dapat dimanfaatkan untuk peningkatan skill dan kapasitas agar mereka senantiasa siap menghadapi beragam tantangan di masa depan. Para petani sawit dari kalangan muda misalnya, dengan kondisi slow living dapat leluasa menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di daerahnya masing-masing untuk dapat memajukan perkebunan mereka, atau bahkan mulai mengambil kuliah di manca negara. ()