Penguatan dolar akhir-akhir ini ditanggapi publik secara beragam. Ada pengusaha yang bertepuk tangan, namun tidak sedikit yang bermuram durja. Bagaimana nasib industri sawit yang merupakan produk eskpor dengan raupan devisa kedua terbesar?
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut. Para pelaku industri harap-harap cemas. Tren melemahnya rupiah semakin meningkat sejak memanasnya konflik antara Iran dan Israel. Rupiah sempat terperosok di angka Rp 16.200 per $1 dolar AS. Dikutip dari Google Finance, hari ini, Jumat (19/4/2024), nilai rupiah bahkan bisa mencapai Rp 16.271 per $1 dolar AS.
Sektor industri sawit termasuk yang relatif terdampak dengan menguatnya dolar AS. Beberapa pakar menyebut, terdapat dua skenario atau kondisi dari dampak tren tersebut. Dalam hal ini durasi berlangsungnya pelemahan rupiah termasuk menjadi penentu positif atau tidaknya dampak yang ditimbulkan.
Kondisi pertama, anjloknya rupiah dapat menguntungkan industri sawit. Pada kondisi ini, harga di dalam negeri akan secara otomatis mendongkrak kegiatan ekspor. Karena produk-produk Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan dolar AS. Dan hal ini membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Adapun skenario kedua bisa dianggap merugikan industri sawit bila pelemahan Rupiah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Salah satu “kerugian” saat Rupiah loyo, yaitu biaya produksi sawit yang akan naik karena biaya impor pupuk yang dibeli dengan dolar AS juga membumbung. Sebagaimana diketahui, rata-rata pupuk menyedot hingga sebesar 20% biaya operasional.
"Kalau rupiah melemah dalam jangka pendek, harga dalam negeri naik, industri sawit di hulu diuntungkan, termasuk petani. Tetapi kalau berlangsung lama akan menaikkan biaya produksi, utamanya dari komponen impor seperti pupuk," ujar Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), seperti yang dikutip dari berita CNBC Indonesia (18/4/2024).
IPOSS memandang, perlu dilakukan beberapa upaya antisipasi dalam menghadapi dinamika nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Antara lain mengupayakan tumbuhnya industri pupuk dalam negeri, sehingga industri sawit dapat meminimalkan impor pupuk untuk pendukung produksi. Selain itu, efisiensi operasional perlu dijaga karena ada potensi kenaikan biaya solar dan biaya lainnya yang terdampak penguatan dolar karena sebagian komponennya masih impor. Di sisi lain, kenaikan pendapatan dari sisi mata uang rupiah hendaknya bagi sebagian perkebunan yang sub-standard dapat dimanfaatkan untuk perbaikan dan perawatan di lapangan dan pabrik untuk meningkatkan performa produksi. Namun perlu menjadi catatan khusus bagi petani, adanya penguatan dolar benar akan menguntungkan dalam waktu dekat dengan naiknya harga CPO dan TBS, namun perlu disikapi dengan bijak karena hal ini belum tentu berlangsung lama. Petani harus belajar menabung dari hasil usaha taninya untuk memenuhi kebutuhan peremajaan tanaman di masa depan. ()