Ketika banyak pihak di Eropa sana relatif skeptis atau bahkan melakukan kampanye hitam terhadap sawit, tiba-tiba muncul film yang menceritakan keharmonisan kehidupan perkebunan sawit dan orangutan. Eloknya lagi, film yang diangkat dari kesaksian nyata ini diproduksi warga negara Denmark.
Film dokumenter yang berjudul “Palm Oil in The Land of Orangutans” yang disutradarai dan diproduseri Dan Sal dan Ulirk Gutkin itu menyeruak diantara belantara kampanye hitam Eropa terhadap sawit. Kontan saja, film berdurasi cukup panjang, 72 menit, itu menjadi buah bibir penduduk yang kini sedang menjalani musim semi tahun ini. Mereka sulit membantah subtansi film karena isinya merupakan hasil pengamatan langsung seorang Carl Tareholt, Direktur Program International Copenhagen Zoo.
Dalam sebuah cuplikan trailer film yang diunggah di kanal Youtube CPH:DOX, seorang ahli reptil berkewarganegaraan asing yang tidak disebutkan namanya, bahkan mengaku cukup dibuat tercengang dengan keanekaragaman hayati yang terdapat di area perkebunan sawit.
“I was impressed by the fact that there was any interest in biodiversity in an oil plantation,” ujar ahli reptil tersebut.
Dikisahkan dalam flm dokumenter itu, Tareholt melakukan kunjungan ke perkebunan sawit milik perusahaan Denmark, United Plantation, yang menggarap proyek penyediaan hutan koridor seluas 318 hektar yang menghubungkan perkebunan sawit dengan area hutan lindung Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Hasilnya, hutan koridor yang dibangun berhasil mendorong meningkatnya jumlah spesies hewan yang melintas dan perkebunan sawit United Plantation menjadi habitat atau rumah yang nyaman bagi orang utan. Film dokumenter ini menegaskan bahwa perkebunan sawit bukanlah ancaman bagi keberlangsungan hidup orang utan dan keanekaragaman hayati lainnya.
[caption id="attachment_3015" align="aligncenter" width="750"]

Film Harmoni Sawit dan Orangutan (dok. bpdpks)[/caption]
IPOSS berpendapat, film Palm Oil in The Land of Orangutans ini perlu ditonton lebih luas lagi untuk menciptakan kesadaran baru dunia terkait relasi industri sawit dan habitat orang utan yang selama ini dicitrakan negatif. Terlebih film dokumenter ini berasal dari sudut pandang orang Eropa sendiri sehingga punya kekuatan dalam menangkal kampanye hitam yang gencar dilakukan pihak-pihak tertentu. ()