Meskipun dalam beberapa waktu belakangan selalu menyumbang devisa ekspor jumbo, lebih dari Rp 500 triliun dalam setahun, namun industri sawit Indonesia menghadapi tantangan yang
agak ngeri-ngeri sedap, yakni kemungkinan kepunahannya. Bukan karena EUDR atau
black campaign atau kehabisan lahan, namun karena serangan jamur yang sangat mematikan yang dikenal dengan ganoderma.
Demikian salah satu butir bahasan dalam seminar yang dihelat oleh Rumah Sawit Indonesia, 18 November 2024 di Jakarta, dengan tema besar: Menggapai Kedaulatan Pangan, Energi dan Ekonomi Melalui Perkebunan Sawit Untuk Menuju Indonesia Emas 2045. Dalam seminar yang awalnya berharap menjadikan sawit sebagai sebuah komoditas andalan yang punya durasi panjang bagi bangsa Indonesia (tidak seperti tebu dan cengkeh), ternyata diprediksi memiliki kendala yang cukup serius dalam perkembangannya saat ini.
Menurut salah satu pakar ekonomi sawit, Tungkot Sipayung, ganoderma merupakan momok paling menakutkan bagi dunia persawitan. Jamur yang menyerang pangkal pohon tersebut ternyata di beberapa tempat telah menyebar dan susah ditanggulangi dan ditengarai menjadi biang kerok turunnya produksi sawit nasional. Bahkan menurut pengakuan salah seorang pengusaha, sepertiga lahannya “tidak bisa diselamatkan”. Ia juga mendengar bahwa di beberapa tempat, ganoderma sudah ada yang menghabisi separuh lahan.
Kalau kita tidak waspada, maka tahun 2050 bisa-bisa sudah menghabisi sebagian sawit kita. Bahkan diantara peserta seminar ada yang bisik-bisik, ganoderma bisa menjadikan masa depan sawit kita di ujung tanduk, manakala tidak diketemukan obat mujarabnya.
Menurut Tungkot, ganoderma memang menjadi ancaman yang sangat serius karena sampai saat ini belum ada obat yang manjur untuk membasminya. Kalau kita tidak waspada, maka tahun 2050 bisa-bisa sudah menghabisi sebagian sawit kita. Bahkan diantara peserta seminar ada yang bisik-bisik, ganoderma bisa menjadikan masa depan sawit kita di ujung tanduk, manakala tidak diketemukan obat mujarabnya.
Menurut laman Smart Agribusiness and Food (19/09/2024), g
anoderma merupakan
jamur berbahaya yang dapat menimbulkan kerusakan serius pada pohon kelapa sawit dan menurunkan volume panen. Jika tidak ditangani, jamur ini dapat berdampak besar terhadap produktivitas perkebunan. Jamur ini menginfeksi pohon kelapa sawit atau penyakit yang dikenal sebagai busuk pangkal batang dan busuk batang atas yang menyerang akar lalu menyebar ke atas hingga mengganggu kemampuan pohon untuk mengangkut air dan nutrisi, kemudian akhirnya mematikan pohon.
Ada tiga jenis
Ganoderma yang dapat menginfeksi kelapa sawit: G. boninense, G. miniatocinctum, dan G. zonatum. Di antara ketiganya, G. boninense adalah yang paling ganas dan lazim ditemui, terutama di Asia Tenggara. Jamur ini tumbuh subur dalam kondisi hangat dan lembab, yang umum terjadi di perkebunan kelapa sawit, sehingga menjadi masalah yang terus ada.
Ganoderma dapat
berdampak buruk pada produksi minyak sawit, terutama jika terlambat dideteksi. Pohon yang terinfeksi menghasilkan tandan buah lebih kecil dan lebih sedikit, yang menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan. Jika infeksinya masih ringan, hasil panen bisa turun hingga 38%. Infeksi sedang, hasil panen turun hingga 80%. Sedangkan pada infeksi parah, hasil panennya turun hingga 97%.
Menurut Henny Hendarjanti, praktisi perlindungan pertanian (majalah Hortus, 10/09/24), dalam upaya mengendalikan penyakit busuk pangkal batang, diperlukan pendekatan pengendalian terpadu. Diawali dengan sensus ganoderma terlebih dahulu, mengidentifikasi gejala dan tanda ganoderma pada tanaman yang sudah atau belum menghasilkan, serta deteksi dini ganoderma. Intinya, setelah itu diperlukan tindakan isolasi, preventif dan bahkan injeksi obat seperti fungisida kimia dan fungisida biologi.
Kedepan, kolaborasi riset yang lebih intens sangat diperlukan (tidak bisa ditunda) agar ditemukan resep penanganan ganoderma yang jitu. Tanpa hal tersebut, jamur yang mudah menyebar ini akan membahayakan masa depan dunia sawit dimana saja. Ekonomi Indonesia jadi taruhannya. ()