Riset dan inovasi kelapa sawit di Indonesia terbilang berkembang cukup pesat. Hampir setiap tahun selalu ada produk baru yang tercipta dengan ragam keunggulannya. Rompi anti peluru, tekstil, cat marka jalan, hingga semen, semuanya dibuat dari bahan limbah sawit. Geliat pengembangan produk sawit ini dipacu oleh program Grant Riset Sawit (GRS) yang digalakkan pemerintah sejak 2015.
Lini berita agribisnis belakangan ini ramai membicarakan periset dari Universitas Pancasila (UP) yang mendapat hibah penelitian semen sawit. Proposal penelitian Prof Jonbi, dosen Program Studi Teknik Mesin UP berjudul "Semen Sawit Formulasi Semen Berbasis Limbah Pembakaran Boiler Pabrik Kelapa Sawit yang Ramah Lingkungan Dalam Rangka Ekonomi Sirkuler" menjadi salah satu dari 52 proposal yang terpilih oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), selaku penyelenggara program GRS.
Dilansir dari elais.co (21/12) melalui risetnya Prof Jonbi ingin berkontribusi meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan sekaligus untuk membangkitkan ekonomi sirkuler lewat pemanfaatan limbah pembakaran di pabrik sawit. Ia menerima hibah penelitian senilai Rp 750 juta dengan proyeksi hasil penelitiannya akan diproduksi di tahun 2025.
Tradisi keilmuan yang berujung pada inovasi semacam ini merupakan pertanda baik bagi kemajuan negeri. Sebuah bangsa yang serius dalam mengembangkan riset dan inovasi cenderung akan lebih adaptif terhadap perubahan dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Keduanya adalah elemen kunci dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkelanjutan. Negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jerman dan Amerika Serikat menjadikan riset dan teknologi sebagai prioritas pembangunan mereka.
Program GRS yang berkontribusi signifikan bagi kemajuan industri kelapa sawit nasional patut diapresiasi. Hasil riset yang didukung oleh BPDP telah membantu memperkenalkan teknologi baru serta metode pengolahan limbah sawit menjadi energi terbarukan. Melalui GRS ini pula Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai penghasil utama minyak sawit dunia yang memprioritaskan keberlanjutan serta tanggung jawab sosial dalam pengelolaannya.
Hanya saja ada permasalahan yang kerap dihadapi program GRS yaitu banyaknya hasil riset yang berhenti pada tahap penelitian dan tidak berlanjut ke implementasi nyata. Beberapa penelitian menghasilkan temuan yang sangat potensial, seperti inovasi teknologi atau produk turunan sawit baru, namun kurang memiliki rencana strategis untuk diadopsi oleh pelaku usaha atau masyarakat. Hal ini terjadi antara lain karena sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan sektor swasta yang belum optimal.
Agar hasil riset tidak hanya berakhir sebuah laporan akademik tanpa dampak nyata, negara perlu hadir lebih jauh dengan merangkul industri untuk mendukung implementasi riset. Tanpa langkah konkret untuk menjembatani kesenjangan yang ada, penelitian yang didanai pemerintah berisiko tidak memberikan kontribusi yang maksimal terhadap tujuan pembangunan industri sawit berkelanjutan. ()