Beberapa waktu belakangan, harga CPO sedikit mengalami penurunan. Namun, berdasarkan hukum permintaan dan penawaran, harganya diperkirakan naik kembali. Sayangnya, kenaikan ini justru diprediksi merugikan. Loh, kok bisa!
Persaingan minyak nabati semakin hari semakin kompleks. Meskipun secara teori kelapa sawit bisa lebih produktif dibandingkan minyak nabati lainnya, namun karena kebutuhan yang makin besar, harganya pun di pasar global tidak murah. Bahkan kadang lebih mahal dibanding beberapa minyak nabati lainnya.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martoyo mengingatkan, harga minyak bunga matahari saat ini ternyata sudah dibawah harga CPO seperti yang tengah terjadi di Uzbekistan, Tiongkok dan India. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat peningkatan produksi minyak kompetitor.
Yang jadi pertanyaan sederhana adalah mengapa minyak nabati non CPO bisa lebih murah? Ini antara lain sebagai akibat dari kebijakan larangan ekspor dan atau kebutuhan domestik dari Indonesia. Ketika Indonesia mengerem ekspor CPO maka harganya di pasar global akan meningkat. Dan karena ingin mengamankan ketahanan pangan mereka, banyak negara importir melakukan penanaman pengganti sawit. Akibatnya, produksi bunga matahari, rapeseed dan kedelai menjadi melimpah.
Pada awal Mei ini misalnya, minyak bunga matahari dihargai US$ 862,8-/ton atau turun 3,90% sedangkan minyak kedelai US$ 1.141/ton atau turun 0,38%. Di sisi lain, harga CPO pada ujung April lalu justru mengalami peningkatan selama dua hari berturut-turut sebesar 1,21%, padahal sempat turun hampir selama sebulan lamanya. Harga CPO di bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman 3 bulan mendatang misalnya, dihargai MYR 3.921/ton atau meningkat 0,64%. Mirip dengan itu, harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada 29 April ini dipatok Rp 12.225/kg, atau terjadi kenaikan sekitar 0,78% dibandngkan 3 hari sebelumnya.
Berdasarkan catatan Eddy sebagaimana dilansir Blooberg Technoz, ekspor CPO Indonesia mengalami penurunan secara signifikan sejak September 2023 sebagai konsekuensi dari kosumsi domestik CPO untuk biodiesel sejak Juni tahun lalu lebih tinggi dari konsumsi untuk pangan. Dikatakan, porsi ekspor terhadap produksi pada Februari 2024 sebesar 50,9%, atau mengalami penurunan dari periode yang sama sebelumnya sebesar 70,9%. Dengan kalimat lain, Gapki mencatat volume ekspor minyak sawit pada periode Pebruari sebesar 2,16 juta ton atau turun 26,48% secara bulanan.
Yang perlu juga diketahui, penurunan ekspor tersebut juga bisa dipicu oleh penurunan produksi yang sedang berlangsung, atau hilirisasi di dalam negeri yang makin maju. Jadi tidak semata-mata akibat program biodiesel.
Ekspor CPO Indonesia ke China misalnya, turun 30,02% atau sebesar 194.000 ton, dari 569.000 ton pada Desember 2023 menjadi 375.000 ton pada Januari 2024. Penurunan ekspor juga terjadi ke Amerika Serikat, Pakistan, Afrika dan beberapa negara lainnya. Menurut Bisnis Indonesia, volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia cenderung menurun dalam 2 tahun belakangan, setelah sebelumnya meningkat tinggi pada 2021. ()