Perbincangan tentang Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) selalu saja hangat. Kurang suksesnya PSR ditengarai antara lain akibat tidak sampainya informasi ke pekebun (petani).
Demikian antara lain yang sempat diungkap oleh salah satu nara sumber pada sebuah diskusi PSR yang dilakukan di wilayah Bogor, Jabar (14/05/2024). Dikatakan, informasi kadang demikian mahal bagi para pekebun yang belum berpendidikan tinggi.
Ada banyak petani bahkan yang tidak tahu menahu tentang program PSR. Konsekuensinya, mereka pun tidak punya kemampuan untuk mengakses dana PSR apalagi memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan.
Salah satu solusi yang ditawarkan dalam diskusi itu berupa keikutsertaan Pemerintah Daerah dalam mendampingi para pekebun, mulai tahap awal hingga akhir. Selain itu dibuat lembaga dimana para pekebun dapat berasosiasi dan mengkomunikasikan seluruh masalahnya.
Manakala lembaga tersebut aktif maka pekebun pun akan sangat terbantu dalam menenuhi semua persyaratan serta mengembangkan sawitnya agar berproduksi secara optimal. Manakala didukung Pemda yang aktif memajukan warganya, banyak masalah bisa dituntaskan.
Ada juga usulan agar para sarjana yang disekolahkan oleh BPDKS diterjunkan langsung untuk mendampingi para petani. Dengan demikian, para sarjana pertanian itu tidak hanya aktif di pabrik-pabrik kelapa sawit, tapi terjun ke perkebunan rakyat.
Intinya, masalah PSR yang rumit itu bisa diselesaikan manakala terdapat niat baik, keinginan kuat untuk saling bergandeng tangan dan melakukan pendampingan serta pemberdayaan. Tanpa gotongroyong, maka PSR relatif sulit mencapai tujuannya secara maksimal. ()