Perkebunan sawit sering diasosiasikan dengan lahan yang relatif luas. Bahkan, Indonesia adalah negara produsen sawit terbesar sejagat raya. Tapi, perusahaan manakah penggelola kebun sawit terluas di dunia?
Tanpa banyak “kalam”, ternyata PalmCo atau yang dikenal oleh publik sebagai subholding PTPN III, segera telah menjadi juara: pengelola kebun sawit terbesar di dunia. Meski saat ini sudah menguasai 586 ribu hektar kebun, PalmCo terus akan meningkatkan lahannya menjadi 708 ribu hektar dalam 10 tahun kedepan. Inilah hasil kerja sama operasi (KSO) yang diteken awal April ini antara PalmCo dengan SupportingCo yang keduanya merupakan subholding PTPN III.
Disebutkan, kerja sama ini akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Bagi PalmCo, sebagaimana dilansir oleh Info Sawit, pengelolaan lahan yang semakin luas akan berpotensi meningkatkan produksi, Walaupun terjadi juga peningkatan biaya operasional, tetapi dapat dikompensasi dari produksi yang meningkat, sehingga biaya produksi yang semula tinggi dapat diturunkan. Sedangkan bagi SupportingCo, pendapatan dari kerja sama ini dapat menjadi salah satu sumber pemulihan atas disparitas yang terjadi. Tentunya bukan langkah ringan tetapi setidaknya dapat meringankan beban usaha dan meningkat nilai kedua perusahaan.
Kerja sama operasi ini akan berlangsung selama 25 tahun dimana aset yang dulunya dikelola oleh SupportingCo kini beralih menjadi tanggung jawab PalmCo. Semua karyawan SupportingCo tidak mengalami perubahan status, namun kini garis komando dipegang oleh PalmCo.
Penggabungan atau yang sering disebut sebagai merger seringkali dilakukan untuk meningkatkan efisiensi sehingga ongkos bisa ditekan dan hasil lebih maksimal. Proses yang demikian memerlukan modal yang cukup di samping tumbuhnya rasa kebersamaan dan semangat yang tinggi agar menghasilkan sinergi yang baik. Berbagai tantangan ke depan seperti peremajaan sawit hingga memerangi hama serta antisipasi perubahan iklim bisa dihadapi dengan lebih baik.
IPOSS berharap, upaya-upaya peningkatan produksi sawit dapat terus dilakukan baik oleh dunia korporasi maupun petani. Untuk itu, perlu adanya upaya terpadu yang saling sinergis seperti yang dilakukan kedua subholding PTPN III tersebut. Adanya kemitraan yang terjalin antara korporasi dan petani tentu akan sangat diharapkan segera terbentuk dan meluas, Dengan demikian kapasitas petani akan meningkat, baik dari segi akses terhadap modal, bantuan peremajaan, upaya peningkatan produksi, dan pada akhirnya berujung pada kenaikan pendapatan petani. Semua itu bisa terjadi bila ada keinginan untuk maju bersama, membangun sinergisitas yang dilandasi perencanaan yang matang dan eksekusi yang konsisten. ()