Tidak banyak pegawai yang tetap ceria saat masa pensiun tiba. Saku baju yang tiba-tiba jadi kempis membuat hidup menjadi pesimis. Tapi tidak demikian dengan Samirun. Walau pesangon belum juga di tangan, ia tetap bersemangat untuk menghidupi keluarganya. Tiap hari, ia menganyam gedek yang berbahan kulit pelepah sawit yang dibuang.
Postur tubuh Samirun tidak tinggi, atau sedikit dibawah ukuran rata-rata lelaki pada umumnya di Sumatera Utara. Kulitnya gelap, lumayan berkeriput dan berpakaian seadanya. Ia banyak bertelanjang kaki manakala berjalan menjelajahi hutan sawit yang luas. Nyaris tidak takut dengan duri, juga ular kobra yang banyak berkeliaran diantara pohon-pohon sawit. Pengalaman panjangnya menunjukkkan bahwa ia lekaki sejati. “Tiga puluh tahun saya jadi karyawan potong buah (pemetik TBS).
Alkamdulillah tidak pernah kena musibah,” ujarnya bangga.
Samirun baru satu bulan masuk usia pensiun, berarti umurnya kini baru memasuki 57 tahun. Dari wajahnya yang berkeriput, sekilas ia seperti seorang kakek berumur hampir 70-an tahun. Ini menandakan bahwa aktivitasnya memotong buah sawit yang tinggi pohonnya antara 5 sampai 8 meter selama tiga dekade itu sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Kegantengannya di masa muda seolah tersedot oleh tanaman-tanaman sawit di sekitar rumahnya yang kini rimbun penuh buah. Satu-satunya yang menonjol hanyalah otot-ototnya yang masih kekar dan boleh diadu dengan anak muda desa disana.
“Saya pas jadi karyawan sehari-hari motong buah sawit pake egrek (pisau khusus untuk memetik TBS). Saya pernah disuruh jadi mandor potong buah, bisa punya bawahan, tapi saya
enggak mau. Senangnya begini,
kok,” ujarnya dengan mimik penuh kebanggaan. Pria lulusan SD ini menceritakan bagaimana ia diterima sebagai karyawan 30-an tahun lalu dengan gaji terakhir Rp 2 jutaan per bulan.
Karena umur jua, akhirnya Samirun harus berhenti kerja alias pensiun. Selama sebulan ini, ia belum menerima uang pesangon atau pensiunan karena proses administrasinya sedang berjalan. “Nanti juga bakal
dapet, cuma belum
aja,” ujarnya optimis. Meski tidak seberapa yang akan ia dapatkan, ia tidak pernah merasa khawatir karena ia punya keahlian lain yang sangat dibutuhkan masyarakat. Samirun bisa jadi tukang kayu, tukang batu, dan yang paling menjanjikan adalah kepiawaiannya membuah gedek dari kulit pelepah sawit.
[caption id="attachment_3706" align="alignnone" width="900"]

Samirun mengambil pelepah sawit yang dipotong oleh karyawan kebun[/caption]
Selama sebulan terakhir, hampir setiap pagi, ia pergi ke hutan sawit untuk mencari pelepah-pelepah yang baru saja dipotong oleh karyawan dari perusahaan agar pohon sawit lebih cepat besar. Otot tangannya yang masih kekar dengan mudah menyayat-nyayat kulit pelepah yang masih hijau itu. Ia kumpulkan satu per satu lalu dibawa ke rumahnya yang masih “nebeng” tanah perusahaan. Samirun tahu benar diameter, lebar dan panjang sayatan yang ia harus buat sehingga ketika dianyam menjadi gedek akan rapi dan ada nuansa keindahan yang teratur.
“Disini semuanya boleh (gratis),
kok.
Ngambil pelepah sawit
enggak pernah dilarang perusahaan. Yang penting habis itu kita rapikan lagi. Ya, asal mau kerja, orang di sekitar hutan sawit ini insyaallah bisa hidup lumayan. Yang
mungut lidinya juga bisa menghidupi keluarganya,” katanya dengan mimik ceria.
Samirun mengaku, setelah pensiun dalam sehari bisa menganyam 3-4 lembar gedek. Itu semua tergantung kesediaan bahan dan waktunya yang luang. Adapun pemasaran produknya nyaris tidak pernah punya masalah. Kebutuhan warga atas gedek yang utamanya dijadikan “dinding” rumah ternyata sangat tinggi. Pemesanan dengan uang di muka sering ia tolak karena tidak mampu mengerjakan walaupun sudah dibantu anak lelakinya.
[caption id="attachment_3708" align="alignnone" width="900"]

Samirun memegang sayatan pelepah sawit[/caption]
Produk gedek Samirun memang sangat terkenal. Bahkan panglong (toko kayu bahan bangunan) di sekitarnya juga rajin memesan darinya untuk dijual kembali. Tidak heran, kalau Samirun sering pasang harga yang berbeda-beda. Kalau sang pembeli adalah golongan tetangga, maka satu lembar gedek dihargai Rp 30 ribu, namun jika dijual ke panglong maka ia bisa patok di angka Rp 40 ribu. Dus, dalam satu hari, rata-rata pensiunan Samirun bisa meraup Rp 100 ribu. Sebuah angka yang lumayan besar untuk ukuran masyarakat desa yang berjarak 1,5 jam dari kota besar Medan.
Hitung punya hitung, pendapatan Samirun setelah pensiun, meski tidak menentu, sering kali bisa lebih besar dibanding gajinya saat menjadi karyawan perusahaan sawit. Ia merasa berkah sawit menjadikan dirinya senantiasa optimis menatap masa depan. Itu tentu belum memperhitungkan ternak unggasnya berupa beberapa ekor bebek dan entog.
Sambil menganyam gedek, pensiunan Samirun terus bercerita tentang kisah panjangnya sebagai pemotong buah sawit. Ia ulang-ulang terus sebagai bentuk dari rasa bangganya. Bagi orang kota, mungkin apa yang dialami oleh Samirun itu susah dicerna. Tidak masuk akal. Tapi begitulah, bahagia itu memang relatif. ()