
Harga minyak sawit kembali bergerak naik dan sempat menyentuh level tertinggi dalam sekitar 20 bulan. Kenaikan ini tidak bisa dibaca dari satu faktor saja. Di pasar komoditas, harga sawit bergerak mengikuti banyak sinyal sekaligus, mulai dari cuaca, prospek produksi, permintaan energi, hingga kebijakan biodiesel. Dalam beberapa waktu terakhir, dua faktor yang banyak mendapat perhatian adalah risiko iklim dan dorongan permintaan biofuel.
Dari sisi iklim, El Niño menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Fenomena ini dapat membuat sebagian wilayah penghasil sawit mengalami kondisi lebih kering dan panas dari biasanya. Bagi kelapa sawit, kekurangan air bukan hanya berdampak pada kondisi tanaman saat itu juga, tetapi juga dapat memengaruhi pembentukan bunga, tandan buah segar, dan produksi pada periode berikutnya. Reuters mengutip SD Guthrie, salah satu perusahaan perkebunan sawit besar asal Malaysia, yang memperkirakan dampak El Niño terhadap produksi sawit tidak langsung terasa, melainkan dapat muncul dengan jeda sekitar 12–16 bulan.
Selain El Niño, dinamika iklim lain seperti Indian Ocean Dipole atau IOD juga perlu diperhatikan. IOD adalah fenomena perubahan perbedaan suhu permukaan laut antara Samudra Hindia bagian barat dan bagian timur, khususnya di sekitar perairan selatan Indonesia. Dalam fase IOD positif, perairan di sekitar Indonesia cenderung lebih dingin dibanding bagian barat Samudra Hindia sehingga pembentukan awan dan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dapat berkurang. Sebaliknya, IOD negatif cenderung meningkatkan peluang pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia.
Studi dalam Scientific Reports menjelaskan bahwa IOD merupakan salah satu sumber penting variabilitas curah hujan antartahun, dengan fase positifnya berkaitan dengan anomali curah hujan negatif pada periode puncak. Bagi perkebunan sawit, perubahan curah hujan ini penting karena produksi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan kondisi lingkungan kebun.
Tekanan dari sisi pasokan juga mulai tercermin dalam data pasar. Free Malaysia Today/Bloomberg mencatat harga sawit di Bursa Malaysia sempat naik ke RM4.927 per ton pada Kamis, level intraday tertinggi sejak Desember 2024. Laporan yang sama menyebut Departemen Pertanian Amerika Serikat memperkirakan cadangan sawit global akan turun ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026/2027. Data ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons kondisi produksi saat ini, tetapi juga membaca risiko pasokan ke depan ketika cuaca kering dan permintaan biofuel bergerak bersamaan.
Namun, harga sawit tidak hanya bergerak karena faktor cuaca. Dari sisi permintaan, kebijakan energi ikut memberi dorongan. Kebijakan B50 membuat pasar membaca adanya potensi peningkatan serapan sawit di dalam negeri. Jika lebih banyak minyak sawit digunakan untuk biodiesel, maka pasokan yang tersedia untuk ekspor bisa menjadi lebih terbatas. Free Malaysia Today/Bloomberg mencatat harga sawit naik ke level tertinggi sejak 2024 karena permintaan biofuel yang meningkat dan risiko produksi akibat penguatan El Niño. Laporan itu juga menyebut cadangan sawit global diperkirakan turun ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026/2027.
Situasi ini menunjukkan bahwa harga sawit berada di antara dua tekanan besar. Di satu sisi, risiko iklim dapat menekan prospek produksi. Di sisi lain, kebijakan energi seperti B50 dapat meningkatkan kebutuhan domestik terhadap CPO. Ketika kekhawatiran pasokan bertemu dengan permintaan yang kuat, harga sawit cenderung mendapat dorongan naik.
Bagi Indonesia, kenaikan harga sawit bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Harga yang lebih tinggi dapat mendukung nilai ekspor dan harga tandan buah segar, tetapi juga perlu dikelola agar tidak menekan industri hilir, kebutuhan pangan, ketersediaan Biofuel B50 dalam negeri, dan beserta pembiayaan biodiesel. Karena itu, membaca harga sawit tidak cukup hanya dari pergerakan pasar harian. Perlu dilihat bagaimana iklim, energi, stok, ekspor, dan kebijakan domestik saling memengaruhi.