
"Tiga urgensi perlunya pemanfaatan lahan lain untuk area menanam padi: antisipasi luas panen padi yang menyusut akibat konversi lahan sawah, upaya pengamanan stok untuk pemenuhan konsumsi beras, peluang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia"
Prof. Suwarto memproyeksikan dalam setiap tahun terdapat 3 – 4,5% tanaman sawit rusak atau dalam kondisi harus diremajakan. Dari luas lahan sawit rakyat saja, rata-rata setiap tahunnya terdapat 215.528 hektare kebun yang perlu diremajakan. Dengan simulasi setiap hektare lahan peremajaan sawit rakyat (PSR) dapat menyediakan ruang terbuka/gawangan seluas 2500 – 3000 meter persegi, maka setiap tahun diperkirakan tersedia 53.882 – 64.658 hektare untuk padi gogo.
Penanaman padi gogo di wilayah perkebunan kelapa sawit beriklim basah diklaim memungkinkan dapat dilaksanakan dua kali masa tanam setiap tahun. Dengan demikian total potensi luas tanam padi dapat mencapai 107.764 – 129.316 hektare per tahun. Luasan ini dapat menjadi alternatif pengganti penyusutan sawah akibat konversi. Sementara perkiraan produksi padi selama 2 tahun tanaman sawit belum menghasilkan dapat mencapai 510.595 ton gabah kering giling (GKG). Bersama timnya, Prof. Suwarto juga menganalisa proyeksi pertumbuhan penduduk, konsumi bahan makanan yang mengandung beras, serta luas panen padi dari tahun 2024 – 2045. Dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk 1,09% per tahun, konsumsi beras 93,71 kg per kapita per tahun, laju konversi 1,66% per tahun, serta aspek lainnya, diperkirakan mulai tahun 2027, tanpa adanya upaya pemanfaatan lahan untuk padai, akan terjadi kekurangan lahan padi.
Data BPS 2023 & 2024[/caption]
Data BPS terbaru juga memperjelas fakta penyusutan lahan sawah tersebut dalam setahun terakhir. Luas panen padi mengalami penurunan sebanyak 0,17 hektare dari semula 10,21 hektare pada tahun 2023 menjadi 10,05 tahun 2024. Sementara produksi padi menurun dari tahun 2023 53,98 juta ton GKG menjadi 52,66 juta ton GKG pada tahun 2024 (-1,32 juta ton GKG).
Tantangan tumpang sari padi gogo di lahan sawit[/caption]
Terlepas dari kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan produksi beras serta potensi lahan yang ada, program penanaman padi gogo di lahan sawit menyisakan banyak tanda tanya. Kekhawatiran dari para petani yang paling mendasar mulai dari sejauh mana dukungan pemerintah untuk penyediaan pupuk, pestisida, hingga penyerapan padi hasil panen. Penanggulangan hama di kebun sawit juga dianggap akan semakin rumit tatkala berdampingan dengan padi. Pun perubahan budaya petani sawit dari tanaman perkebunan ke tanaman holtikultura merupakan sesuatu yang tidak gampang.
Para petani berharap antisipasi atas berbagai permasalahan semacam itu dilakukan dengan langkah preventif yang telah direncanakan secara matang sejak awal, bukan solusi “pemadam kebakaran” yang dicari setelah terjadinya masalah. Bila tidak begitu, maka program penanaman padi gogo hanya akan menambah beban para petani sawit dengan segala keterbatasannya.
Mohammad Abdul Ghani, Dirut Holding Perkebunan Nusantara PTPN III mengusulkan agar program penanaman padi gogo di lahan sawit dijadikan pemerintah sebagai mandatori bukan hanya bagi para petani peserta PSR dan PTPN, tetapi juga menyasar perkebunan swasta. Usulannya tersebut sebagai konsekuensi dari rendahnya rendahnya capaian PSR. Selain itu, Delima memberikan masukan agar program padi gogo dapat disinergikan dengan program PSR agar lebih efisien. Seperti proses penyerahan bibit sawit dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian benih padi gogo.
Sementara itu menurut pakar kehutanan dan lingkungan Petrus Gunarso, tidak semua lahan sawit dapat ditanami padi. Selain itu mengenai pangan, Petrus menegaskan agar pemangku kebijakan jangan hanya terpaku dengan padi. Justru yang lebih penting dari pangan adalah protein, bukan karbohidrat. Pemanfaatan lahan sawit untuk memelihara hewan ternak dinilai olehnya lebih cocok daripada padi, baik dari sisi penghasilan ekonominya mau pun keberlanjutannya. ()"Tidak semua lahan sawit dapat ditanami padi"