
Selama ini, harga minyak kedelai masih berada di atas CPO. Namun, posisi tersebut berpotensi berubah pada 2027. Skenario ini mulai mendapat perhatian karena GAPKI memperkirakan kombinasi risiko El Niño dan meningkatnya kebutuhan biodiesel dapat mendorong harga sawit melampaui minyak kedelai. Lalu, apa yang bisa membuat keduanya berbalik posisi?
Minyak sawit dan minyak kedelai sama-sama digunakan untuk pangan dan industri, sehingga perubahan pasokan dan permintaan keduanya turut memengaruhi harga. Pada Agustus 2026, FAO mencatat harga minyak sawit meningkat di tengah kuatnya permintaan global dan kekhawatiran terhadap dampak El Niño pada produksi Asia Tenggara. Harga minyak kedelai juga naik, antara lain dipengaruhi permintaan ekspor dan kondisi produksi di negara-negara penghasil.
Menariknya, jarak harga keduanya sempat mengecil. Data CME Group menunjukkan bean oil–palm oil spread turun dari sekitar USD 354 per ton pada akhir Juni menjadi USD 327 per ton pada akhir Agustus 2026. Pada periode yang sama, harga CPO futures Malaysia meningkat dari sekitar USD 1.117 menajadi USD 1.228 per ton. Minyak kedelai masih lebih mahal, tetapi CPO bergerak semakin mendekati harganya.
Perubahan ini salah satunya berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan CPO di dalam negeri. Sejak B50 diterapkan pada Juli 2026, semakin banyak CPO dialokasikan untuk biodiesel. Kementerian ESDM memperkirakan program tersebut membutuhkan sekitar 15,2–16,3 juta ton CPO. Ketika konsumsi domestik meningkat, pasokan yang tersedia untuk pasar ekspor ikut menjadi perhatian. Jika pertumbuhan produksi tidak mampu mengimbangi tambahan kebutuhan tersebut, ruang pasokan di pasar global dapat semakin terbatas.
Pada 2027, tekanan tersebut berpotensi bertambah jika produksi sawit terganggu cuaca. GAPKI memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia turun 3,7% menjadi 56,6 juta ton, sementara kebutuhan CPO untuk biodiesel naik 18,5% menjadi 17,4 juta ton. Kondisi tersebut diperkirakan menekan ekspor Indonesia hingga 14,9% menjadi 26,5 juta ton. Jika proyeksi ini terjadi, jumlah CPO yang tersedia untuk pasar internasional akan semakin terbatas.
Namun, harga CPO tetap tidak bergerak sendirian. Minyak kedelai juga dipengaruhi produksi, cuaca, pengolahan kedelai, permintaan pangan, dan penggunaan untuk energi. Karena itu, apakah CPO benar-benar dapat menyalip minyak kedelai akan bergantung pada seberapa besar perubahan pasokan dan permintaan di kedua pasar tersebut, bukan hanya pada perkembangan sawit Indonesia.
Namun, proyeksi produksi sawit 2027 masih menunjukkan kemungkinan yang beragam. USDA pada April 2026 memproyeksikan produksi minyak sawit Indonesia 2026/27 mencapai 48 juta ton, naik sekitar 3% dari 46,7 juta ton pada tahun sebelumnya, antara lain karena semakin banyak tanaman memasuki usia menghasilkan. Dengan demikian, perkembangan harga 2027 masih akan ditentukan oleh interaksi antara produksi, konsumsi domestik, ekspor, cuaca, dan pasar minyak nabati global.
Pada akhirnya, yang menarik bukan sekadar apakah CPO akan menjadi lebih mahal daripada minyak kedelai. Perubahan harga tersebut mencerminkan bagaimana kebutuhan energi domestik, kondisi produksi, dan perdagangan global mulai bertemu dalam satu pasar. Jika tekanan pasokan sawit berlanjut sementara kebutuhan biodiesel meningkat, posisi CPO terhadap minyak kedelai dapat berubah pada 2027.