Peningkatan nilai tambah kelapa sawit terus menjadi materi riset yang tidak pernah ada habisnya. Indonesia, konon baru mengantongi 179 jenis produk hilirisasi sawit, sedangkan Malaysia justru sudah mencapai 260 produk.
Salah satu produk hilirisasi sawit Malaysia yang terkemuka berupa tokotrienol dan tokoferol yang langsung diekstrak dari sawit. Itulah kemajuan paling mutakhir yang dicapai Malaysia sebagaimana disampaikan oleh Sahat Sinaga, Plt Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) sebagaimana dilansir oleh CNBC Indonesia (1/2/24).
Disebutkan, tokotrienol dan tokoferol bisa digolongkan vitamin E. Tokotrienol dikatakan mampu menangkap radikal bebas, sifat anti oksidannya terkait dengan kemampuannya menurunkan pembentukan tumor, kerusakan DNA, dan kerusakan sel. Sedangkan tokotrienol merupakan antioksidan yang utama dalam lemak dan minyak yang berperan pada fertisilasi dan pembentukan jaringan tulang. Konon, harga satu kilogram tokotrienol bisa mencapai $800 atau lebih dari Rp 13 juta.
Derom Bangun, mantan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI), mengakui keunggulan Malaysia atas Indonesia dalam hal produktivitas, riset, promosi, tata kelola sawit, perhatian kepada petani sawit, hilirisasi dan pengelolaan sawit dalam satu atap. Dalam produktivitas misalnya, Malaysia bisa mencapai 4-6 ton per hektar, sedangkan Indonesia hanya kisaran 3,1-3,4 ton per hektar. Dalam hal riset, Porim (Palm Oil Reseach Institutute of Malaysia) memainkan peranan sentral dalam mendorong inovasi dan efisiensi dalam semua tahapan produksi dan penggunaan sawit. Di negara jiran tersebut, FELDA (Federasi Land Development Authority) memberikan perhatian penuh dan melakukan tata kelola sawit yang relatif efisien. Bahkan bank pun kabarnya melakukan kebijakan “jemput bola” (Info Sawit, 4/2/24).
Sebagaimana diketahui, luasan perkebunan sawit Indonesia mencapai 16,8 juta hektar, bahkan menurut data terbaru 17,3 juta hektar. Sedangkan Malaysia sebagai negara kedua terbesar penghasil sawit hanya memiliki kebun seluas 5,67 juta hektar. Menurut Fenny Sofyan, Ketua Kompartemen Media Relation GAPKI produktivitas sawit Indonesia yang jauh dari Malaysia, antara lain dikarenakan komposisi umur tanaman sawit di Indonesia 40 persennya atau seluas 6,57 juta hektar sudah masuk katagori tua. Untuk itu diperlukan percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (CNBC Indonesia, 4/7/24).
Soedjai Kartasasmita, Pendiri Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI), sejak sepuluh tahun silam telah menegaskan, hilirisasi di Indonesia menghadapi beberapa kendala yang boleh dibilang tidak mudah karena menyangkut isu-isu yang mendasar, khususnya terkait riset, infrastruktur yang kurang memadai, minimnya insentif, kampanye hitam yang dilakukan oleh beberapa LSM yang berafiliasi ke luar negeri (Sindonews, 26/5/14).