Tandan kosong (tankos) sawit nyatanya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan secara lebih bernilai. Tankos yang kerap disebut sebagai limbah atau
by product sawit dapat diolah menjadi bahan baku rompi anti peluru. Peneliti Pusat Studi Sawit Institut Pertanian Bandung (IPB) terus mengembangkan rompi anti peluru dari serat tankos agar dapat menjadi produk yang ideal yang sesuai dengan standar keamanan militer.
Dalam rangka memaksimalkan manfaat limbah tandan kosong sawit, peneliti Pusdi Sawit IPB, Dr. Siti Nikmatin, S.Si., M.Si., dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengembangkan rompi anti peluru bersama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam proses produksinya.
Menurut Siti Nikmatin, proses pembuatan bahan baku rompi anti peluru dari tandan kosong sawit pada dasarnya bisa dilakukan secara mandiri. Namun, proses produksi melibatkan para UMKM agar pengetahuan dan pemberdayaan UMKM dapat berjalan, sebagaimana amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Kemudian alasan mengapa memilih rompi anti peluru adalah karena produk ini merupakan salah satu alat pertahanan negara yang saat ini bahan bakunya masih 100% impor. Padahal, Indonesia sendiri bisa membuatnya di dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang lebih dari 50% dan serat tankos sawit memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan impor tersebut.

Kolonel. Cpl. Kries Kambaksono, Peneliti Utama Bidang Materil Dinas Penelitian dan Pengambangan TNI AD yang merupakan salah satu narasumber Seminar Kelapa Sawit Untuk Industri Biomaterial dan Tekstil di IPB tanggal 30 September 2024 sepakat dengan pernyataan Siti Nikmatin bahwa masih terdapat banyak produk militer yang diimpor dari luar negeri. Sektor militer perlu produk-produk yang dihasilkan di dalam negeri. Selain karena akan lebih menghemat biaya negara, juga akan lebih mudah dalam proses
after sales-nya.
Kries mengungkapkan TNI AD khususnya, kerap kesulitan saat mendapati peralatan-peralatan militer yang memerlukan penggantian suku cadang karena barang mesti diimpor. Padahal sebagian juga dapat diproduksi di dalam negeri. Adapun keunggulan serat dari sawit untuk kebutuhan militer menurut Kries antara lain sebagai bahan baku alternatif, bahan materi kamuflase, bahan dengan kemampuan absorsi suara yang baik, bahan dari energi terbarukan, dan merupakan pasokan lokal atau dalam negeri yang mudah diperoleh.
Namun demikian, menurut Kries terdapat beberapa tantangan yang dihadapi saat akan mengembangkan bahan dari serat sawit untuk kebutuhan militer. Mulai standarisasi yang jelas terkait kualitas dan kinerja produk yang terbuat dari serat alam, teknologi pengolahan serat sawit yang masih perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, serta produk yang terbuat dari serat sawit perlu dapat diintegrasikan dengan sistem persenjataan yg sudah ada termasuk nanoteknologi & bioteknologi. ()