Tuduhan terhadap sawit tidak pernah berhenti. Salah satunya menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan perkebunan sawit tidak mau atau enggan menyalurkan CSR (corporate social responsibility)-nya kepada masyarakat sekitar perkebunan. Apa yang tersiar seringkali merupakan kabar burung, tidak sepenuhnya benar, termasuk dalam masalah ini.
Lahan sawit Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, atau pada kisaran 16,8 juta hektar yang tersebar di berbagai pulau. Perkebunan sawit yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 12,5 juta hektar, sedangkan sisanya dimiliki masyarakat. Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia bisa mencapai 100 juta ton pada tahun 2040, khususnya bila Program Peremajaan Sawit Rakyat berhasil. Apakah produksi yang saat ini baru mencapai 47 juta ton (2021) juga menetes ke masyarakat sekitar perkebunan?
Catatan PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) dalam buku berjudul Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia (edisi ketiga, 2017), selama tahun 2014 misalnya, perusahaan-perusahaan perkebunan yang sudah menghasilkan tandan buah segar (TBS), secara bertahap menyalurkan CSR perusahaan dalam berbagai bentuk. Antara lain dana CSR diberikan dalam bentuk program pembinaan UKM lokal yang bergerak di sektor perdagangan (40%), diikuti UKM sektor jasa (24%) dan UKM pertanian (20%).
Adapun untuk penyaluran CSR pada masyarakat sekitar, selama 2014 terdistribusi di bidang pendidikan dan pelatihan (32%), sarana dan prasarana umum (21%) dan sisanya untuk pembangunan sarana ibadah, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan dan bantuan korban bencana alam (PASPI).
Pada tahun 2017, sebagaimana termaktub dalam jurnal sosial ekonomi dan kebijakan pertanian, Agrisocionomics, dianalisa CSR yang dilakukan oleh perusahaan sawit PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP). Hasil penelitan menunjukkan bahwa implementasi program CSR GSIP kepada masyarakat sekitar berfokus pada bantuan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. PT GISP tidak terjun dalam pendidikan karena menganggap bahwa ranah itu merupakan tanggungjawab pemerintah.
Sementara itu, perusahaan Bumitama Gunajaya Agro menyabet penghargaan Best CSR in Palm Oil Industry 2023 dan menjadi salah satu perusahaan yang menerima penghargaan dimaksud. Adapun kucuran CSRnya utamanya di bidang infrastruktur, ekonomi dan pendidikan. Dikatakan Head of Investor Relations & Corporate Communications Bumitama, Michael Kesuma, penghargaan ini merupakan bukti bahwa Bumitama berkomitmen untuk mencapai kesejahteraan masyarakat melalui CSR (infosawit.com).
Beberapa contoh di atas hanyalah sebagian dari CSR yang menjadi program perusahaan sawit di Indonesia. Apa yang sudah dilakukan perlu mendapat apresiasi, sedangkan perusahaan perkebunan sawit yang masih belum maksimal dalam mengucurkan CSRnya perlu didorong masyarakat dan para pihak tanpa kenal lelah. ()