Ekor kampanye hitam tentang sawit mengibas kemana-mana. Yang paling digaungkan oleh kalangan Eropa, adalah bahwa perkebunan sawit itu merupakan hasil deforestasi. Di pihak lain, ada juga yang menyebar hoax bahwa sawit itu boros air.
Pernyataan bahwa kelapa sawit sebagai salah satu jenis tanaman yang paling suka nyedot air, lama kelamaan, menjadi stigma negatif. Di saat dunia sedang berusaha melestarikan lingkungan, menjaga ketersediaan air bagi kehidupan semua mahluk diatasnya, jutaan hektar lahan sawit dikembangkan. Bahkan, Indonesia dan Malaysia menjadi pemilik kebun terbesar. Akibatnya, waduh, banyak telunjuk diarahkan ke Indonesia.
Derasnya informasi bahwa sawit boros air akhirnya membuat banyak orang percaya dan melihat dunia sawit sebagai hal yang miring. Mereka seolah melupakan bahwa sawit di masa kini, bukan hanya terkait dengan minyak goreng, melainkan hampir merambah semua kebutuhan hidup mulai sabun, kosmetik hingga biodesel dan bioavtur. Keberkahan sawit pun seolah dilupakan.
Berdasarkan hasil penelitian Coster (1938), tingkat evapotranspirasi yang menunjukkan kebutuhan air pada kebun kepala sawit sebesaf 1,184 mm per tahun. Apakah itu termasuk boros air? Ternyata angka tersebut masih jauh lebih rendah dibanding pohon bambu, lamtoro, akasia, sengon, pinus dan karet dengan tingkat kebutuhan air pada kisaran 1,300-3,000 mm per tahun. Dalam riset yang dilakukan oleh Pasaribu (2012) juga menunjukkan serapan air hujan oleh sawit terbukti lebih rendah dibandingkan mahoni dan pinus.
Hasil riset itu secara tidak sengaja sejalan dengan hasil penelitian Makonnen & Hoekstra (2010), yang berintikan: konsumsi air yang dibutuhkan kelapa sawit secara global hanya sebesar 2 persen dan sebagian besar berasal dari green water dan air hujan. Sedangkan tanaman serelia seperti gandum, padi dan jagung, serta kedelai, memiliki prosentase global water footprint kisaran 5-15 persen. Dikaitkan dengan perannya sebaga sumber energi terbarukan, kelapa sawit juga tergolong paling hemat air.
Lebih dalam lagi, Makonnen dan Hoekstra saat mengukur kebutuhan air pada kelapa sawit untuk menghasilkan 1 liter biodiesel hanya butuh sebesar 5,166 liter air atau lebih rendah dibandingkan kebutuhan kelapa, rapeseed dan kedelai. Ini semua hanya menunjukkan bahwa kelapa sawit bukan tanaman yang mengeksploitasi air dan merusak lingkungan.
Jadi bagaimana gais, masih percayakah bahwa tananam sawit berpotensi menyebabkan suatu daerah menjadi gurun? Come on, wake up. ()