Sangat sulit menyebutkan produk apa di sekitar kita yang tidak mengandung minyak kelapa sawit. Pasalnya sekitar 50% produk kebutuhan sehari-hari yang beredar di seluruh dunia, dipastikan berbahan sawit. Mulai dari peralatan mandi: seperti sampo, sabun, pasta gigi, perlengkapan kosmetik: bedak, lipstik, pelembab, produk makanan: minyak goreng, margarin, krimmer, hingga produk kesehatan: suplemen dan vitamin. Bukan hanya itu, hilirisasi sawit telah menghasilkan biodiesel, bahkan bioavtur, sebagai BBM kendaraan yang ramah lingkungan. Maskapai penerbangan Garuda sendiri pernah mencobanya beberapa kali dan bisa dikatakan sukses. Tingginya kebutuhan manusia akan minyak nabati, terutama sawit, tampaknya akan membuat dilema banyak pihak, tanpa terkecuali Uni Eropa sebagai pihak yang mempermasalahkan sawit. Sikap penolakan terhadap industri sawit nyatanya justru menimbulkan problematika baru yang jauh lebih serius. Mereka harus memikirkan cara bagaimana produk minyak nabati lain bisa menghasilkan kuantitas serta kualitas sebaik sawit.
Total konsumsi minyak nabati dunia pada tahun 2022 mencapai 210,2 Juta ton. Minyak sawit mentah (CPO) menjadi penyumbang terbesar kebutuhan minyak nabati yaitu sebesar 36,6%, disusul minyak kedelai 27%, minyak biji rapa (canola) 14,9%, minyak bunga matahari 9,1% dan minyak inti sawit (CPKO) sebesar 4,1%. Tingginya ketergantungan dunia terhadap minyak sawit dibuktikan dengan tingkat konsumsinya yang tidak dapat tergantikan oleh minyak nabati lain. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan sawit yang dapat berproduksi secara kontinu sepanjang tahun. Sebagai tanaman tahunan siklus tanaman sawit dapat mencapai usia 25 tahun atau bisa lebih lama, sehingga kemampuan produksi minyak sawit memiliki durasi yang lebih panjang dan berkelanjutan. Lain hal dengan siklus penanaman yang harus rutin dilakukan hingga beberapa kali dalam setahun pada minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari dan canola. Ketersediaan minyak sawit di pasar dunia tidak terlepas dari produktivitas minyak sawit yang mampu menghasilkan 3.36 ton minyak per hektar, 7x lipat lebih banyak dibandingkan minyak kedelai dan 4x lipat dibandingkan minyak canola serta bunga matahari. Dapat dikatakan secara proporsi penggunaan lahan, kelapa sawit hanya menggunakan sekitar 10% dari total lahan tanaman minyak nabati dunia, padahal produksinya menguasai 36% pasar minyak nabati.
Dalam hal efisiensi lahan, sawit jelas tak terkalahkan. Perlu berapa ratus hektar lahan baru untuk bisa menggantikan kuantitas yang mampu dihasilkan kelapa sawit? Dalam hal kualitas, minyak sawit yang memiliki titik didih tinggi dan lemak jenuh tinggi, ideal untuk menciptakan berbagai macam krim dan panganan dengan tekstur lembut. Sementara minyak nabati lainnya harus melewati proses dihidrogenasi atau penambahan atom hidrogen secara kimia ke dalam molekul lemak untuk meraih bentuk yang sama. Namun, proses ini juga akan menghasilkan produk dengan lemak tak jenuh yang tidak sehat dikonsumsi. Dalam pandangan IPOSS, perkebunan sawit yang ada saat ini perlu dipertahankan dengan tetap menjunjung konsep sawit yang berkesinambungan dan bersahabat dengan alam. Berbagai upaya peremajaan kebun sawit harus dilaksanakan sehingga lahan yang ada termanfaatkan secara optimal. ()