Kelapa sawit dapat menjadi pohon dengan banyak ranting berkah manakala dilakukan hilirisasi secara optimal. Kualitas sumber daya manusia menjadi ujung tombak yang harus senantiasa ditingkatkan dari waktu ke waktu. Tanpa itu, sawit justru bisa menjadi produk yang usang.
Demikian sekilas tentang pesan penting yang disampaikan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam membuka kegiatan Pekan Sawit 2024 melalui daring. Pekan Sawit sendiri dilaksanakan di Politeknik ATI Padang minggu ketiga Mei lalu dengan berbagai aktivitas telah melibatkan tidak kurang 1000 orang. “Industri kelapa sawit berperan penting dalam menumbuhkan perekonomian nasional,” ujarnya.
Ditegaskan, peningkatan sumber daya manusia (SDM) bidang persawitan diharapkan dapat meningkatkan hilirisasi yang ujungnya akan memberikan dampak inklusif terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan petani sawit. Kementerian Perindustrian sendiri terus berperan dalam peningkatan kualitas SDM dengan memberikan banyak beasiswa bidang persawitan.
Sebagaimana diketahui bersama, Indonesia merupakan negara paling terdepan di bidang persawitan dengan luas lahan lebih dari 16 juta hektar serta produksi crude palm oil (CPO) per tahun mencapai kisaran 45,5 juta metrik ton. Indonesia mengungguli kebun sawit di Malaysia yang bertengger di urutan kedua dengan luas 3,7 juta hektar dan produksi 19,3 juta metrik ton. Berada di urutan ketiga, negara gajah putih Thailand dengan luas lahan 810 ribu hektar dan produksi 3,45 juta metrik ton.
Menurut data BPDPKS, selama tahun 2023, nilai usaha hilirisasi sawit Indonesia mencapai US$ 62,9 miliar, dengan rincian, ekspor sebesar US$ 38,4 miliar, domestik UD$ 21,4 miliar, dan biomassa US$ 3,1 miliar. Meskipun Malaysia memiliki lahan yang jauh sempit dari Indonesia, ternyata telah mampu mencipta 260 produk turunan sawit, sedangkan Indonesia hanya 179 (walaupun mengalami peningkatan dibanding tahun 2007 yang baru berjumlah 54 jenis). Diperkirakan masih tersisa potensi sekitar 30 persen terhadap hilirisasi produk sawit Indonesia.
Salah satu yang menjadi tantangan bagi hilirisasi produk sawit Indonesia adalah kualitas SDM. Sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Syafaruddin Poti, SDM sawit Indonesia masih sangat terbatas sehingga menyebabkan Indonesia belum banyak memiliki tenaga ahli di bidang kelapa sawit. Selain itu, teknologi pengolahan produk turunan sawit juga masih perlu dikembangkan lebih lanjut di masa datang.
Dalam pandangan IPOSS, pemberian beasiswa untuk mendorong hilirisasi produk sawit yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian, BPDPKS dan lembaga lain perlu diapresiasi. Namun mengingat masih banyaknya potensi sawit yang belum tergarap, maka pihak-pihak terkait yang masih memiliki kapasitas finansial maupun non finansial, kiranya juga dapat lebih aktif terjun dalam mengembangkan lebih lanjut SDM Indonesia di bidang persawitan tersebut. ()