Selama sepuluh tahun terakhir, Indonesia relatif bergantung pada sawit sebagai komoditas ekspor utama yang berperan penting dalam sektor pertanian dan perdagangan nasional. Hal itu setidaknya diungkap Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag, Fajarini Puntodewi dikutip dari bisnis.com (17/10/2024) dalam acara Gambir Trade Talk di Jakarta, yang menyebutkan bahwa hingga saat ini, produk pertanian dan perkebunan masih didominasi oleh komoditas sawit.
Namun sawit pada saat yang sama juga menghadapi ragam tantangan yang tidak mudah. Tantangan teranyar antara lain dinamika ekspor sawit ke India. Ketergantungan India terhadap minyak kelapa sawit Indonesia memang cukup besar, tercermin dari volume impor CPO yang konsisten besar dari tahun ke tahun. Namun, kebijakan impor India yang sering menyesuaikan tarif untuk melindungi industri domestiknya saat ini menjadi tantangan bagi eksportir Indonesia.
Mengutip data BPS, India telah menjadi pengimpor utama CPO Indonesia sejak tahun 2012. Pada tahun 2023, India mengimpor sejumlah 5,4 juta ton CPO Indonesia. Penguatan kehadiran sawit Indonesia di pasar India didukung oleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang bertujuan untuk mempermudah akses pasar.
Studi yang dilakukan oleh IPOSS menunjukkan bahwa kenaikan tarif impor berdampak negatif terhadap volume ekspor CPO dan RBDPO. Kenaikan tarif dapat mengurangi volume ekspor CPO hingga 1,4% dan RBDPO hingga 8,1% dalam jangka pendek. Meskipun perubahan kebijakan tarif impor di India tidak selalu menyebabkan penurunan ekspor yang besar, namun menjaga hubungan perdagangan yang kuat dengan India tetap menjadi hal yang krusial bagi Indonesia.
Pemerintah pun “dipaksa” untuk melakukan negosiasi tarif bilateral yang lebih intensif dan menerapkan kebijakan perdagangan yang inklusif, khususnya dalam kerangka ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA), guna mempertahankan posisi kompetitif Indonesia di pasar sawit global. Meskipun perubahan kebijakan tarif impor tidak menunjukkan penurunan ekspor yang signifikan, penting untuk menjaga dan memperkuat hubungan diplomasi perdagangan dengan India, mengingat negeri anak benua ini adalah salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.
Upaya untuk menjaga tingkat ekspor secara keseluruhan juga perlu terus dilakukan. Data terbaru BPS menunjukkan terjadinya penurunan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya pada September 2024. Ekspor CPO mengalami penurunan sebesar 21,64% secara bulanan dan 24,75% secara tahunan, dengan total nilai ekspor sebesar USD 1,38 miliar.
Memahami kebijakan dan dinamika perdagangan sangat penting bagi semua pihak yang terlibat dalam industri minyak sawit, upaya melalui berbagai jalur perlu ditempuh Indonesia untuk memastikan komoditasnya tidak terhambat di pasar internasional. Dengan langkah yang tepat, Indonesia dapat terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam pasar minyak sawit global. ()