Bersamaan dengan HUT Kemerdekaan RI ke -79, IPOSS bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas, menerbitkan sebuah buku yang berbicara tentang pentingnya keberadaan dan keberlangsungan industri sawit di Indonesia, dengan judul: “Sawit Anugerah yang Perlu Diperjuangkan”. Inilah salah satu bentuk persembahan IPOSS dalam merayakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Disebut anugerah karena sawit sendiri memang bukan tanaman asal Indonesia, melainkan dari Afrika, namun kemudian berkembang sangat pesat dan memberikan manfaat yang sangat banyak bagi kehidupan bangsa-bangsa di dunia, dan Indonesia pada khususnya. Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa sawit sampai tahap ini merupakan tanaman yang sangat berkontribusi bagi ekonomi nasional, yang ekspornya hanya boleh kalah dari batu bara. Tidak banyak yang tahu bahwa hilirisasi sawit Indonesia sudah menyentuh kisaran angka 200 produk dan memenuhi hajat manusia dari bangun pagi hinggi tertidur lagi.
Perlu diketahui, diversifikasi produk turunan sawit masih sangat luas dan perlu diperlebar, termasuk untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baru terbarukan (renewable energy), sehingga turut mendukung komitmen Indonesia menuju net zero emission (NZE) pada tahun 2060.
Sawit menjadi anugerah juga karena mengingat dengan tanaman ini, maka lapangan pekerjaan banyak demikian terbuka dan sangat berkontribusi dalam mengurangi pengangguran. Dalam khazanah dunia persawitan Indonesia, rantai pasok industrinya melibatkan setidaknya 16 juta pekerja, utamanya kaum petani, yang menggantungkan hidupnya dari industri ini. Maklumlah, sebanyak 40 persen lahan sawit dikuasai oleh petani dan bahkan mata rantai produksinya juga melibatkan banyak pihak.
Meskipun demikian, bukan berarti sawit dapat melenggang di pasar global dengan mudahnya. Persaingan minyak nabati dunia membuat banyak negara pemilik lahan luas rapeseed, bunga matahari dan kedelai, tidak rela akan perkembangan sawit yang demikian masif dengan manfaat yang belum diketahui batasnya. Dengan alasan untuk melindungi petaninya, mereka khususnya di Uni Eropa, kemudian memasang barikade yang dinamakan European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang intinya akan menghalangi dengan segala cara agar sawit kita tidak bisa masuk ke wilayahnya dan terus menyuarakan kampanye hitam bagi sawit.
Saking testruktur, sistematis dan masifnya kampaye hitam tersebut, kemudian menjalar meracuni sebagian anak bangsa Indonesia. Penduduk Indonesia yang semestinya membela dan mempertahankan sawit, justru ikut menabuh gendang anti sawit. Mereka menebar isu yang tidak benar di tengah-tengah jutaan saudaranya yang hidup dari industri sawit.
Aneka tantangan tersebut hanyalah sebagian dari hal-hal yang mesti diperjuangkan dari waktu ke waktu. Kita percaya bahwa Tuhan hanya memberikan tambahan anugerah kepada manusia melalui sebuah proses upaya yang sistematis dan ilmiah serta persaingan yang tidak mudah. Dalam konteks semua itu, buku ini lahir untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya berikhtiar, berjuang dan bergandeng tangan antar anak bangsa. ()