Industri kelapa sawit semakin menjadi sasaran kampanye negatif yang intensif, terutama dari LSM lingkungan, media internasional, dan pembuat kebijakan di negara-negara Global North. Kampanye ini sering membingkai sawit sebagai penyebab utama deforestasi tropis, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak asasi manusia. Meski sebagian kekhawatiran berakar pada fakta, narasi yang berkembang cenderung menyederhanakan realitas dan mengabaikan kontribusi penting sawit dalam pembangunan sosial-ekonomi negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia.
Artikel ini mengkaji secara kualitatif bagaimana narasi anti-sawit dibangun dan disebarluaskan melalui analisis terhadap 60 sumber ilmiah. Studi ini menemukan bahwa kampanye sering kali dimotori oleh aktor-aktor global yang menggunakan media dan strategi komunikasi visual untuk membentuk opini publik. Temuan juga mengindikasikan adanya pengaruh geopolitik dan kepentingan dagang di balik narasi tersebut, yang memperkuat ketimpangan dalam diskursus keberlanjutan global. Dalam kerangka ini, sawit tidak hanya diposisikan sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai simbol dalam kontestasi kekuasaan dalam tata kelola perdagangan internasional.
Negara-negara produsen merespons melalui skema sertifikasi seperti RSPO dan ISPO serta kampanye diplomasi publik. Upaya ini menekankan peran positif kelapa sawit dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, tantangan tetap muncul karena standar keberlanjutan global masih didominasi oleh perspektif negara-negara maju, yang sering tidak memberikan ruang setara bagi konteks lokal negara penghasil. Ketimpangan ini menciptakan hambatan struktural dalam menyampaikan narasi tandingan yang lebih kontekstual dan adil, terutama bagi petani kecil dan komunitas lokal.
Studi ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif, berbasis bukti, dan berimbang dalam membahas keberlanjutan sawit. Dialog global yang adil semakin mendesak agar narasi keberlanjutan tidak menjadi alat dominasi ekonomi, tetapi benar-benar mencerminkan keadilan ekologis dan sosial, terutama bagi negara-negara produsen di Global South.
