Artikel ini menelaah bagaimana ambisi iklim Uni Eropa berkembang menjadi kekuatan regulasi global melalui EU ETS, CBAM, dan EUDR. Dengan metode telaah literatur kualitatif atas studi ilmiah terutama sejak 2020 hingga Juli 2026, penelitian ini mengkaji relasi antara politik karbon global, Brussels Effect, kebocoran karbon, rantai pasok bebas deforestasi, keadilan iklim, dan hak atas pembangunan. Temuan utama menunjukkan bahwa kebijakan iklim Uni Eropa dapat mendorong produksi lebih bersih dan transparansi rantai pasok, tetapi juga memindahkan beban verifikasi, sertifikasi, ketertelusuran, dan pembiayaan ke negara berkembang. Pada sawit, EUDR berisiko mengecualikan pekebun kecil yang belum memiliki data lahan dan sistem ketertelusuran memadai. Artikel ini menekankan perlunya tata kelola karbon global yang lebih inklusif, adil, dan mengakui kapasitas pembangunan negara produsen.