Jurnal ini meninjau ulang narasi bahwa sawit merupakan tanaman “boros air” dengan menelaah bukti tentang transpirasi, evapotranspirasi, dan hidrologi daerah aliran sungai. Melalui qualitative literature review atas studi ilmiah terbaru dan dokumen kebijakan, kajian ini menunjukkan bahwa sawit memang menggunakan air dalam jumlah besar sebagaimana tanaman tahunan produktif lain, tetapi tidak terbukti secara umum sebagai komoditas yang secara intrinsik paling “rakus air”. Dampak hidrologis lebih banyak ditentukan oleh cara konversi lahan, drainase gambut, pemadatan tanah, hilangnya sempadan sungai, jalan kebun, serta pengelolaan limbah dan nutrien. Implikasinya, kebijakan ESG, SDGs, EUDR, dan sertifikasi perlu bergeser dari stigma komoditas menuju indikator terukur seperti bebas deforestasi, perlindungan gambut, kualitas air, pengendalian limpasan, dan inklusi petani kecil.