Penelitian ini dilatarbelakangi oleh besarnya peran industri kelapa sawit dalam ekonomi global, namun masih menghadapi kerugian signifikan akibat praktik panen tandan buah segar (TBS) yang tidak optimal. Studi ini bertujuan menganalisis dampak ekonomi dari panen yang terlalu dini atau terlambat terhadap kuantitas dan kualitas produksi. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur kualitatif terhadap berbagai sumber ilmiah dan laporan institusional periode 2020–2026. Hasil menunjukkan bahwa ketidaktepatan waktu panen menurunkan oil extraction rate (OER), meningkatkan asam lemak bebas, serta memicu kehilangan hasil dan penalti harga. Kerugian terjadi di seluruh rantai nilai, termasuk kehilangan pascapanen sekitar 5,21% produksi. Implikasi kebijakan menekankan pentingnya standar kematangan, sistem harga berbasis kualitas, inovasi teknologi penilaian kematangan, serta penguatan kapasitas petani untuk mendukung efisiensi, kesejahteraan, dan keberlanjutan industri sawit.