Petani kelapa sawit skala kecil memainkan peran krusial dalam sistem agrikultur Indonesia. Namun, mereka sering menghadapi ketimpangan harga dalam rantai pasok, terutama akibat lemahnya posisi tawar terhadap pabrik kelapa sawit. Ketidakseimbangan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan sektor sawit secara keseluruhan.
Studi ini merancang formula harga TBS yang adil dengan mempertimbangkan struktur biaya petani dan pabrik dalam rentang investasi selama 30 tahun. Prinsip utamanya adalah memastikan bahwa tingkat keuntungan (IRR) petani setara atau lebih besar dibandingkan dengan pabrik. Hasilnya adalah rumus matematis sederhana namun komprehensif:
PFFB = -2438.7971 + 0.1784 PCPO + 10219.2072 OER
di mana harga TBS ditentukan oleh harga CPO dan rendemen minyak (OER). Formula ini dikembangkan melalui pendekatan statistik dan regresi yang kuat, sehingga dapat dijadikan acuan kebijakan harga yang objektif dan transparan.
Penerapan formula ini diharapkan dapat menghapus praktik negosiasi yang tidak setara, memberi petani acuan harga yang adil, meningkatkan pendapatan mereka, dan mendorong praktik budidaya berkelanjutan. Selain itu, formula ini mendukung integrasi petani ke dalam rantai pasok global yang semakin menuntut keberlanjutan dan keadilan ekonomi.
Lebih jauh, formulasi harga yang adil juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—khususnya dalam pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, dan kemitraan yang lebih setara. Dengan memperkuat posisi tawar petani dan memperjelas struktur penetapan harga, masa depan industri sawit Indonesia dapat diarahkan menuju sistem yang lebih inklusif, efisien, dan berkelanjutan.
