Jurnal ini membahas dampak krisis geopolitik Timur Tengah 2026 terhadap ketahanan pangan dan energi Indonesia, terutama akibat blokade Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak, pupuk, dan komoditas pangan global. Melalui qualitative literature review atas literatur 2020–2026, studi ini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi kerentanan ganda: kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN, gangguan pasokan pupuk fosfat dan kalium, serta inflasi pangan yang menekan daya beli. Di sisi lain, sektor sawit dipandang sebagai aset strategis karena berperan dalam stabilisasi minyak goreng dan penguatan energi melalui mandat biodiesel B35–B40 yang mengurangi impor solar dan menghemat devisa. Implikasinya, Indonesia perlu memperkuat tata kelola lintas sektor sawit, menjaga keseimbangan alokasi pangan-energi, diversifikasi impor pupuk, serta mempercepat transisi bioenergi agar ketahanan nasional lebih adaptif terhadap guncangan geopolitik.