Jurnal ini menelaah paradoks perlakuan terhadap sawit dalam kebijakan perdagangan global, di mana komoditas paling produktif justru menghadapi pembatasan ketat. Melalui kajian literatur kualitatif 2020–2025, studi ini mensintesis bukti tentang efisiensi lahan, kapasitas serapan karbon, dan kinerja siklus hidup sawit dibanding minyak nabati lain, serta menganalisis RED II Uni Eropa dan sengketa WTO. Temuan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara data ilmiah dan regulasi, yang cenderung proteksionis. Implikasinya, diperlukan standar perdagangan berbasis kinerja lingkungan yang objektif dan non-diskriminatif.