Artikel ini menelaah pergeseran keberlanjutan dari prinsip pembangunan menjadi instrumen tata kelola perdagangan melalui standar, sertifikasi, ketertelusuran, dan regulasi akses pasar. Dengan metode telaah pustaka kualitatif, studi ini mengkaji literatur tentang keberlanjutan, ekonomi ekologi, kebijakan perdagangan, rantai nilai global, serta tata kelola sawit. Temuan utama menunjukkan bahwa aturan keberlanjutan dapat memperkuat akuntabilitas lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi hambatan non-tarif ketika biaya kepatuhan, verifikasi, dan dokumentasi lebih berat bagi negara berkembang dan pekebun kecil. Pada kasus sawit, risiko eksklusi muncul jika standar global tidak mengakui kapasitas dan sistem produsen. Artikel ini menekankan perlunya tata kelola keberlanjutan yang adil, proporsional, partisipatif, serta berbasis tanggung jawab bersama.