
Indonesia kembali menunjukkan peran aktif dalam agenda dekarbonisasi penerbangan internasional melalui penyelenggaraan ASEAN Sustainable Aviation Fuel Workshop: Advancing SAF Implementation in the ASEAN Region di Bali pada 13–15 Juli 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama European Union Aviation Safety Agency (EASA), dengan melibatkan ICAO Asia-Pacific serta berbagai pemangku kepentingan penerbangan, energi, industri, dan lembaga penelitian. Workshop tersebut berlangsung setelah pertemuan Working Group 5 Committee on Aviation Environmental Protection ICAO (CAEP WG5) yang juga digelar di Bali pada 6–10 Juli 2026.
Rangkaian forum ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai mengambil posisi lebih strategis dalam pembahasan Sustainable Aviation Fuel (SAF), bukan hanya sebagai negara yang memiliki potensi bahan baku besar, tetapi juga sebagai pihak yang aktif membangun dasar teknis, metodologi, dan diplomasi ilmiah. Pemerintah Indonesia mendorong agar ASEAN tidak hanya menjadi pasar bagi SAF yang diproduksi kawasan lain, melainkan berkembang sebagai kawasan produsen dengan rantai pasok, teknologi, dan kapasitas industri yang dibangun dari karakteristik sumber daya kawasan sendiri.
ASEAN memiliki modal penting untuk menuju arah tersebut. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam memiliki potensi bahan baku yang besar, sementara Singapura dan sejumlah negara ASEAN lainnya memiliki kemampuan teknologi, kapasitas finansial, serta akses investasi. Apabila kekuatan ini dapat dihubungkan, ASEAN berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan SAF dunia. Namun, peluang tersebut membutuhkan kolaborasi lintas negara dan sektor, mulai dari pemerintah, produsen energi, penyedia teknologi, lembaga keuangan, industri penerbangan, lembaga penelitian, hingga pelaku bahan baku.
Dalam forum tersebut, Indonesian Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) bersama PT Tripatra Engineers and Constructors turut berkontribusi melalui paparan mengenai New Feedstocks in CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation). Paparan ini mengangkat pengalaman Indonesia dalam mendorong bahan baku baru, khususnya POME oil dan oil palm trunk (OPT), batang kelapa sawit hasil peremajaan tanaman tua, agar dapat masuk dalam kerangka pengakuan internasional CORSIA. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa besarnya potensi bahan baku tidak otomatis membuat suatu material dapat digunakan dan diklaim sebagai bahan baku SAF berkelanjutan. Bahan baku perlu memiliki klasifikasi yang jelas, data yang kuat, metodologi life cycle assessment (LCA) yang kredibel, serta proses verifikasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
POME oil menjadi contoh bahwa bahan baku dari limbah sawit dapat masuk ke pasar SAF global jika didukung data ilmiah yang kuat. Dalam skema CORSIA, POME oil untuk jalur HEFA memperoleh nilai emisi siklus hidup sebesar 18,1 gCO₂e/MJ. Artinya, emisi yang dihitung dari proses produksi hingga penggunaan bahan bakar ini jauh lebih rendah dibandingkan avtur konvensional yang menggunakan nilai acuan emisi sekitar 89 gCO₂e/MJ. Dengan nilai tersebut, POME oil dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku SAF rendah emisi.
POME oil menjadi contoh konkret bagaimana sumber daya domestik dapat memperoleh posisi dalam pasar SAF global apabila didukung bukti ilmiah yang memadai. Melalui proses pemodelan, verifikasi, pembahasan teknis di CAEP WG5, persetujuan anggota CAEP, dan publikasi dalam dokumen CORSIA, POME oil memperoleh default Core LCA value sebesar 18,1 gCO₂e/MJ untuk jalur HEFA. Capaian ini memperlihatkan bahwa diplomasi teknis berbasis data dapat membuka ruang pengakuan bagi feedstock berbasis sawit dan residunya.
Sementara itu, OPT atau batang kelapa sawit hasil peremajaan juga mulai dibahas sebagai agricultural residue dalam CORSIA Positive List melalui kerja sama Indonesia–Jepang. Meskipun masih menunggu proses persetujuan lebih lanjut untuk penetapan resmi dalam dokumen ICAO, perkembangan ini membuka jalan bagi kajian SAF berbasis OPT pada tahap berikutnya. POME oil dan OPT memperlihatkan dua tahapan berbeda: POME oil telah mencapai pengakuan nilai LCA, sedangkan OPT sedang memperjelas status dan klasifikasi bahan bakunya.
Dalam konteks ini, IPOSS berperan memperkuat basis bukti kebijakan melalui identifikasi kesenjangan riset, kajian feedstock SAF berbasis sawit, serta penyampaian perspektif negara produsen dalam forum internasional. Rangkaian pertemuan di Bali menegaskan bahwa kepemimpinan Indonesia dalam SAF tidak cukup hanya bertumpu pada besarnya sumber daya, tetapi juga pada kualitas data, konsistensi kebijakan, kesiapan industri, dan kemampuan membangun pengakuan internasional yang kredibel. Dengan modal tersebut, Indonesia dapat mendorong ASEAN menjadi kawasan produsen dan inovator SAF yang lebih inklusif, transparan, dan berdaya saing.



