Untuk dapat menghasilkan produk sawit secara maksimal diperlukan lingkungan yang kondusif, termasuk cuaca yang medukung. La Nina yang diprediksi menyambangi Indonesia medio tahun ini dapat berdampak buruk bagi produksi pangan.
Indonesia baru saja melewati suatu masa kemarau panjang sebagai buntut dari El Nino. Banyak hal terjadi namun sejauh ini relatif mampu dimitigasi. Nah, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), para petani kini harus siap siaga lagi menghadapi La Nina dalam bentuk banjir besar dari curah hujan yang tinggi.
Tanda-tanda La nina sudah kelihatan sejak beberapa bulan belakangan. BNPB mencatat, selama bulan Maret lalu misalnya, terjadi banjir di 23 titik, dengan rincian di wilayah Sumatera 12 titik, Jawa 9, Kalimatan 1 dan Sulawesi 1. Bukan hanya itu, telah terjadi juga longsor di 40 titik, yang terbanyak di wilayah Jawa.
Yang ngeri-ngeri sedap, La Nina diperkirakan mulai menghampiri negeri kita pada bulan Juli tahun ini. Ini berarti hanya berselang kisaran beberapa bulan dari kepergian karibnya, El Nino. Dalam catatan Center of Reform on Economic (Core), Eliza Mardian, La Nina tahun 2011 silam bukan hanya berujung banjir saja, namun memunculkan berbagai penyakit. Salah satu akibatnya, panen padi turun hingga 10,5% dan memaksa Pemerintah mengimpor beras sebanyak, 2,75 juta ton. Tercatat juga, selama 2021-2022, La Nina telah menggagalkan panen tembakau, jagung hingga buah-buahan.
Yang paling perlu diantisipasi menurut peneliti Metereologi pada Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Deni Septiadi, sebagaimana dilansir media Business Insight adalah, puncak La Nina biasanya terjadi pada saat musim penghujan di bulan-bulan yang berakhir dengan “ber”, mulai September hingga Desember, bahkan bisa sampai awal tahun. Curah hujan yang tinggi bercampur dengan La Nina bisa bisa memberikan dampak kerusakan pada produksi pangan, termasuk kelapa sawit. Disinyalir juga bahwa banjir dan longsor memberikan efek negatif terhadap transportasi produk pangan dari satu tempat ke tempat lainnya.
La Nina sebenarnya merupakan fenomena alam normal berjangka di Samudra Pasifik yang menyebabkan suhu laut turun sehingga udara di suatu daerah terasa lebih dingin. La Nina berdampak pada curah hujan yang lebih besar dari musim penghujan normal sehingga bisa menyebabkan bencana banjir, longsor hingga angin kencang.
Ujung-ujungnya, produktifitas pangan kemungkinan besar akan mengalami penurunan, cadangan pangan menipis dan sekaligus mendongkrak harga serta mengerek inflasi. Bahkan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa sawit Indonesia (DPP Apkasindo), Gular Manurung, secara jelas menyatakan bahwa La Nina akan mengganggu aktivitas di kebun sawit. Diperkirakan produksi sawit akan menurun dalam 1,5 tahun mendatang, lantaran juga karena kurangnya penyinaran matahari.
Masalah produksi sawit yang menjadi salah satu soko guru ekonomi nasional ini, menurut IPOSS harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan secara serius. Apalagi prediksi aneka tantangan kedepan sudah bisa dibilang hampir pasti. “Sedia payung sebelum hujan” harus menjadi prinsip baik pemerintah, pengusaha dan para petani sawit. Tidak ada waktu lagi untuk menunda antisipasi. Semangat! ()