Sebagaimana tanaman lainnya, pohon sawit bisa menghadapi ancaman mematikan, salah satunya pembusukan pada pangkal batangnya. Penyakit ini kalau tidak diwaspadai dapat mengancam masa depan sawit Indonesia.
Awalnya banyak petani berpikir bahwa beberapa pohon sawitnya mati akibat sambaran petir, padalah gejalanya justru menunjukkan pangkal batangnya yang membusuk. Sehingga secara perlahan tapi pasti pohon akan sakit lalu sekarat. Anehnya, banyak pohon di Sumatera mengalami hal yang sama. Setelah dilakukan penelitian secara ilmiah, ternyata pohon-pohon sawit itu terserang jamur ganoderma
. Jamur yang dinamakan
Ganoderma boninense Pat. ini suka memangsa jaringan akar dan pangkal batang sawit, sehingga pohon menjadi kering mirip seperti terkena sambaran petir.
“Jadi kekhawatiran ini bukan hoax tetapi ini (ganoderma) nyata. Malahan ketika tanaman sudah kena serangan ganoderma skala berat, dianggap tersambar petir,” jelas Dr. Darmono Taniwiryono,
Co-Founder Roundtable Ganoderma Management.
Darmono juga melanjutkan, bahwa berdasarkan hasil pantauan timnya di sepanjang jalan, dari Medan sampai Rantau Prapat, Sumatera Utara banyak pohon sawit bertumbangan yang diakibatkan oleh serangan ganoderma. Bahkan dengan infrastruktur perkebunan sawit di Sumatera Utara yang sudah sangat baik sekalipun, tetap saja pelaku usaha kewalahan dalam pengendalian hama sawit ini. Sebagai contoh, penurunan populasi tanaman akibat ganoderma bisa mencapai lebih dari 60% dalam 13 tahun.

Ganoderma ternyata tidak hanya ditemukan di wilayah Sumatera, tetapi juga ditemukan di Sulawesi dan Kalimantan. Berdasarkan data Sipereda Kementerian Pertanian RI, trend peningkatan intensitas serangan ganoderma di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat mengalami peningkatan serangan yang cukup signifikan. Pada Januari 2023 luas serangan ganoderma hanya seluas 2.714 Ha, dan pada akhir tahun (Desember 2023) meningkat hingga 8.794 Ha atau naik dari 9% menjadi 30% dari total tanaman menghasilkan di kabupaten itu pada tahun yang sama. Padahal Sebagian besar sawit di Kabupaten Mamuju Tengah masih berada di generasi pertama.
Menurut majalah Sawit Indonesia, selama tahun 2023 yang lalu, penyakit akibat ganoderma ini telah menyerang perkebunan sawit di Indonesia bertambah 170.593 Ha. Banyak pihak menilai, bila ini dibiarkan akan berpotensi pada merosotnya yield produksi sawit hingga 70%. Bukan main, di tengah banyak hal di industri sawit Indonesia yang mesti dibenahi, muncul pula penyakit kronis tanaman sawit yang belum teratasi dengan baik sampai detik ini.
Kengerian jamur ganoderma ini dianggap sangat mengkhawatirkan karena banyak petani yang masih belum mengetahui cara pengendaliannya, sehingga awam dalam mengatasi dampak penyebarannya. Padahal pengendalian Ganoderma sudah harus dimulai sejak kegiatan peremajaan sawit. Akibatnya, sudah barang tentu pengabaian Ganoderma bisa menyebabkan kehilangan populasi pohon yang lebih cepat. Beberapa ahli sawit mengatakan, bila satu tanaman sudah terjangkit, maka tanaman tersebut sudah tidak bisa disembuhkan dan harus segera dieradikasi untuk menghindari penularan pada tanaman lainnya.
Pengendalian ganoderma memang tidak mudah. Pasalnya ketahanan kelapa sawit terhadap ganoderma berbeda-beda. Walaupun demikian, sebagian peneliti sawit sudah menemukan benih sawit yang dianggap toleran terhadap ganoderma, bahkan sebagian produsen resmi benih sawit sudah merilis bahan tanam (bibit) yang toleran ganoderma, seperti Socfindo, PPKS, Dami Mas, Topaz, dll. Penggunaan bahan tanam toleran ganoderma saja tidak dapat menjamin tanaman kelapa sawit bisa aman sepenuhnya dari infeksi Ganoderma, perlu upaya pencegahan dan pengendalian terbaik sejak masa peremajaan sawit (
land clearing) dengan memanfaatkan bahan tanam yang toleran.
IPOSS berpandangan, upaya pengendalian serangan ganoderma perlu dilakukan segera dan secara komprehensif, mengingat infeksi penyakit ganoderma sangat cepat menyebar. Jika tidak ditangani secara serius, fenomena ini bukan sekadar tentang menurunnya produktivitas sawit, melainkan tentang eksistensi keberlanjutan tanaman dan industri sawit itu sendiri sebagai salah satu penopang ekonomi Indonesia. ()