Pemerintah tengah getol menggaungkan tumpang sari tanaman pangan di lahan
replanting sawit. Upaya ini dinilai sejalan dengan salah satu Asta Cita Pemerintahan Prabowo, swasembada pangan dan energi. Padi gogo, jenis padi untuk lahan kering, belakangan semakin populer sebagai tumpang sari unggulan. Sejauh mana potensi pagi gogo?
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dilansir dari kontan.id (7/11/24) pada IPOC 2024 menyampaikan harapan pemerintah terhadap keterlibatan para pelaku industri sawit dalam upaya peningkatan produksi pangan nasional, khususnya beras. Lahan sawit yang tengah diremajakan dapat ditanami padi sebagai tumpang sari. Kata Wamentan, paling tidak ada dua keuntungan yang didapat tumpang sari pangan di lahan sawit. Petani mendapat pemasukan selama masa tunggu sawit menghasilkan, pemerintah juga untung karena ada tambahan produksi pangan.
Diatas kertas, peningkatan produksi pangan melalui pemanfaatan lahan
replanting sangat mungkin untuk diwujudkan. Indonesia memiliki lahan sawit seluas 17,3 juta hektare (Data Kementan 2023) dimana rata-rata 50 ribu hektare lahan mendapatkan peremajaan (PSR) setiap tahunnya. Dari situ akan selalu ada lahan yang cukup untuk dimanfaatkan sebagai tumpang sari pangan.
Menurut catatan infosawit (6/3/24) Kementan melalui Ditjenbun telah melakukan indentifikasi terhadap luasan lahan yang berpotensi untuk tumpang sari pagi gogo. Hasilnya, dari total sekitar 500 ribu lahan potensial, 200 ribu diantaranya merupakan lahan sawit, sementara sisanya, 300 ribu berada di lahan kelapa. Pada periode tahun 2024 yang telah berjalan, program tumpang sari sawit ditargetkan untuk lahan seluas 120 ribu hektare dengan skema pembagian 80 ribu hektare melalui jalur dinas dan 40 ribu hektare melalui jalur kemitraan.
[caption id="attachment_3743" align="alignnone" width="900"]

Panen ganda padi gogo dan sawit di Desa Nanggala, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang[/caption]
Program “kelapa sawit tumpang sari tanaman pangan” Kementan yang disingkat “Kesatria” diklaim berhasil di Desa Nanggala, Pandeglang, Banten. Petani sawit memanen sawit dan padi gogo secara bersamaan di atas lahan 100 hektare. Desa itu menjadi salah satu lokasi PSR yang sukses dengan tumpang sarinya. Dari integrasi PSR dengan padi gogo, ekonomi keluarga petani yang tengah menunggu sawit barunya tumbuh menjadi terbantu.
Tantangan utama dalam sistem tumpang sari padi gogo dengan kelapa sawit pada lahan yang sedang diremajakan antara lain terletak pada kecukupan nutrisi dan air antara padi gogo dan tanaman sawit muda terutama di lahan dengan kapasitas simpan air yang terbatas. Agar sistem ini berhasil, diperlukan perencanaan tata letak yang tepat, pengelolaan limbah sawit yang efisien, pemilihan varietas padi gogo, serta pengawalan yang konsisten dari para ahli.
Keberhasilan dari tumpang sari padi gogo dan kelapa sawit dapat memberikan manfaat ganda bagi petani. Secara ekonomi, tumpang sari ini memungkinkan petani mendapatkan penghasilan tambahan selama masa tunggu sawit mencapai produktivitas optimal atau selama 3 tahun. Secara ekologis, keberadaan padi gogo dapat membantu menjaga kesuburan tanah melalui penutupan lahan yang mengurangi erosi serta meningkatkan bahan organik dari sisa tanaman.
Selain itu, keberhasilan dari praktik tumpang sari ini juga sebagai jawaban atas tantangan el nino yang sering menyebabkan perubahan iklim ekstrem, seperti musim kemarau panjang. Pada lahan sawit yang sedang diremajakan, pemanfaatan tumpang sari dengan padi gogo dapat meningkatkan ketahanan pangan di tingkat lokal saat terjadi penurunan hasil sawit akibat kekurangan air. ()