Kelapa Sawit selalu jadi topik yang hangat diperbincangkan. Hanya saja nada sinis masih sering dialamatkan kepada pohon yang tidak tahu punya salah apa. Meski sekian lama telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi ekonomi nasional, seolah ekspor jengkol lebih hebat dari ekspor produk kelapa sawit.
Demikianlah sekilas diskusi hangat yang dihelat oleh IPOSS di aula Prof. Dr. Suhadji Hadibroto, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sumatra Utara USU (4/11/24). Hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Dewan Pengawas IPOSS, Dr. Darmin Nasution, Sekretaris Universitas, Prof. Dr. M Fidel Ganis siregar, Pengurus IPOSS, beberapa dekan fakultas, serta 270 mahasiswa serta insan pers. Ruangan ber-ac tersebut penuh sesak dan tak seorang pun beringsut saat pembicara (Prof. Dr. Yanto Santosa, Dr. Sadino dan Prof. Abdul Rauf) mengemukakan pendapatnya secara bernas.
Dalam pidato kuncinya, Ketua Dewan Pengawas IPOSS kembali memberikan gambaran secara gamblang tentang perjalanan Indonesia memiliki sawit bahkan kemudian menjadi produsen terbesar di dunia. Isu lingkungan yang sering dialamatkan kepada sawit, tidak sepenuhnya benar. Banyak orang yang tidak memiliki ingatan cukup baik bagaimana sawit datang dan membawa berkah bagi kisaran 18 juta rakyat Indonesia. Dr. Darmin dengan pemahamannya yang dalam telah memberikan pencerahan utamanya bagi kalangan mahasiswa yang hadir.
Prof. Yanto Santosa yang juga dosen senior IPB Bogor, dalam kesempatan ini, seolah menggugat berbagai pandangan yang mengkritik antara lain keberadaan sawit di tanah gambut. Dikatakan, tanah gambut di Eropa diperjualkan jadi bahan bangunan, sementara di Indonesia ditanami sawit pun seolah merupakan sebuah kesalahan besar. Inilah contoh bagaimana sebagian anak bangsa ini ikut arus pendapat pihak lain tanpa tengok kanan dan kiri. “Kita mesti berani membongkar pemikian yang demikian,” ujarnya.
Sawit di Indonesia yang merupakan komoditas unggulan ekspor dan menghasilkan ratusan turunan produk, sudah selayaknya terus diperhatikan dan diberikan tempat untuk hidup. Apalagi 40 persen lebih lahan sawit dimiliki oleh petani yang bisa menghidupi kisaran 18 juta orang. Meskipun disana-sini masih ada kekurangan dalam budidaya tanaman sawit, bukan berarti sawit harus dibumihanguskan seolah tidak punya makna. Sepertinya Yanto tidak rela bila pernah ada ekspor jengkol dibesar-besarkan namun disisi lain produk sawit tidak diperjuangan.
Yang unik lagi, menurut Yanto, ISPO yang merupakan produk Indonesia sepertinya juga tidak jauh dari menyontek RSPO yang memang ditujukan untuk antara lain menjegal produk sawit. Akibatnya, ISPO yang ada pun terasa rumit, njlimet dan tidak bisa diimplementasikan secara maksimal. “Saya tidak anti ISPO, namun pendekatan pembuatan ISPO sepertinya tidak begitu tepat,” ujarnya.
Dr. Sadino dalam kesempatan tersebut mengupas tuntas tentang aspek hukum dunia persawitan yang dianggapnya masih belum baik. Terjadi diskriminasi dalam penegakan hukum dimana kalau terkait dengan sawit maka seolah bisa dikalahkan atau dinafikan. Dari berbagai aturan yang ada dan berlaku di negeri ini dirasakan betul bahwa kasus pertanahan yang terkait dengan sawit tidak mendapatkan perhatian yang tepat dan cenderung menghakimi sawit itu sendiri. “Saya setuju bahwa sawit memang anugerah yang perlu diperjuangkan dari waktu ke waktu,” katanya.
Tanah dimana tanaman diatasnya, menurut Prof. Abdul Rauf, memiliki kualitas yang berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang cocok dengan tananam keras, dan banyak juga yang cocok dengan misalnya sayur-sayuran. Tuhan dengan kekuasaanNya, menjadikan tumbuhan tepat ditanam pada tanah tertentu. Demikian juga, tanah di kisaran khatulistiwa Indonesia, sudah ditakdirkan menjadi tanah yang sangat cocok ditanami sawit. Meskipun telah ditanami sawit berkali-kali selama seratusan tahun, namun setelah dilakukan penelitian, memiliki kualitas yang sama dan bahkan lebih baik. Sebab, ketika sawit telah habis masa tanamnya kisaran 30 tahun, maka akar dan batangnya menjadi pupuk bagi penyuburan tanah.
Prof. Rauf juga membuktikan bahwa ternyata sawit dapat “mengantongi” air cukup banyak melalui akar-akarnya. Tidak mengherankan, katanya, kalau daerah di kisaran perkebunan sawit selalu punya cadangan air yang cukup bagi warga sekitar.
Di penghujung acara, Plt. Ketua Pengurus IPOSS, Nanang Hendarsah dalam pidato penutupannya menggarisbawahi bahwa IPOSS dan banyak kalangan yang sependapat tidak akan lelah untuk melakukan desiminasi informasi tentang sawit sehingga banyak orang akan lebih memahaminya dengan baik. Tidak mudah memang, karena pihak-pihak yang tidak suka terhadap sawit berada di banyak lini kehidupan, namun melihat manfaat sawit bagi kepentingan nasional yang demikian tinggi maka mengajak banyak pihak untuk memperjuangkan adalah sebuah usaha yang mulia. ()