Sebagai salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi nasional, ekspor CPO melesat dibanding produk unggulan ekspor lainnya. Ini memberi sinyal kuat kepada semua stakeholder kelapa sawit untuk terus memberikan perhatian yang lebih serius terhadap keberlanjutan miracle crop ini.
Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor CPO bulan Juni lalu melibas komoditi ekspor unggulan yang lain seperti batu bara, besi dan baja. Sebagaimana dilansir detik.finance (15/7/24), ekspor CPO dan turunannya mencapai US$ 2,18 miliar, atau mengalami peningkatan sebesar 100,7% secara bulanan, namun turun 5,92% secara tahunan. Meskipun terjadi fluktuasi yang demikian, ternyata kinerja minyak kelapa sawit lebih baik dari batu bara, besi dan baja yang mengalami penurunan, baik bulanan maupun tahunan.
Nilai ekspor batu bara pada bulan Juni lalu misalnya, mencapai US$ 2,49 miliar. Sedangkan besi dan baja hanya US$ 2,10 miliar. Besi dan baja mengalami penurunan bulanan 4,32% dan tahunan 3.48%. Batu bara juga alami penurunan bulanan 0,36% dan tahunan 6,68%. Ketiga komoditas di atas (CPO, batu bara, besi baja) telah tercatat memberikan share sekitar 34,5% dari total ekspor bulan Juni 2024.
Sebagaimana komoditas lainnya, harga CPO juga dipengaruhi oleh dinamika penawaran dan permintaan, faktor produktivitas serta preferensi konsumen. Sebagaimana diberitakan oleh InfoSawit (15/4/24), harga minyak sawit juga terpengaruh oleh kondisi cuaca yang mengakibatkan banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem lainnya sehingga mengganggu produksi, pasokan dan berakhir di harga.
Selain itu, harga CPO juga selalu terimbas kebijakan pemerintah yang terkait dengan sawit, seperti pajak ekspor, regulasi biofuel dan kebijakan tentang perdagangan lainnya. Semua itu akhirnya akan menimbulkan ketidakpastian baru serta guncangan pasar yang sudah mapan. Mengingat CPO diperdagangkan secara global maka perubahan nilai tukar serta pertumbuhan ekonomi internasional juga dapat mempengaruhi harga minyak kelapa sawit dimaksud.
Nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2022 mencapai US$29,62 miliar (naik 3,56% dibanding tahun sebelumnya) dengan volume 26,22 juta ton. Pada tahun 2023, justru volume ekspor naik 4,3% menjadi 27,5 juta ton, namun nilainya turun 19% menjadi US$23,97 miliar. Dalam catatan Katadata Media Network. Pada tahun 2019 ekspor sempat meroket mencapai 29,54 juta ton. ()