Salah satu bahan utama untuk membatik adalah malam atau lilin. Belum banyak yang tahu, ternyata malam dari sawit dapat digunakan untuk membatik dan kini mulai marak digunakan oleh para pembatik asal Cirebon.
Bentuknya lumayan padat, seperti sabun, lilin batik yang dikenal banyak orang berasal dari berbagai bahan yang dicampur sedemikian rupa. Bahan pokok lilin atau yang sering disebut malam tersebut antara lain terdiri dari gondorukem, damar (mata kucing), parafin, microwax, lemak binatang, minyak kelapa, lilin tawon dan lilin lanceng. Tampaknya bahan-bahan tersebut semakin tidak mudah didapat di masa kini sehingga membuat batik tulis menjadi semakin mahal dan jauh dari keterjangkauan.
Lilin batik pada dasarnya merupakan bahan yang biasa dipakai untuk menutup gambar motif batik sehingga permukaannya bisa menolak aneka macam warna yang dberikan pada sebuah kain. Lilin batik sendiri mengalami perkembangan sesuai dengan pengetahuan manusia, awalnya diambil dari sarang tawon (lanceng), lalu bubur beras ketan dan lainnya. Adapun alat yang dipakai untuk menempelkan lilin bernama canting mulai diciptakan di lingkungan keraton Mataram pada abad ke-17.
Seiring dengan perkembangan budaya manusia Indonesia, maka kini mulai dipopulerkan lilin model baru yang merupakan turunan dari sawit. Lilin atau malam ini juga bisa digunakan untuk membatik dengan hasil yang tidak main-main. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia atau hampir 50 juta ton per tahun, maka lilin yang berasal dari sawit dapat memberikan sumbangan sangat signifikan bagi kemajuan batik Indonesia.
Menurut, Kepala Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Helmi Muhansyah, pihaknya mulai menggencarkan penggunaan lilil sawit ini sejak tahun 2018, namun hingga kini popularitasnya belum tinggi. Salah satu sosialisasinya telah dilakukan kepada 90 peserta pengrajin batik di kota Cirebon pada 2023. Para pengrajin diajarkan untuk membuat sendiri lilin dari sawit tersebut serta menggunakannya untuk membatik.
Hiliriasi sawit terus digenjot dan didorong oleh Pemerintah Indonesia. Kalau tahun 2002 produk sawit Indonesia bartu mencapai 54 jenis, maka sampai dengan akhir tahun lalu mencapai 179 jenis, salah satunya berupa lilin untuk keperluan membatik. Kedepan, dengan SDM dan teknologi yang lebih canggih, diharapkan hilirisasi sawit makin beragam, dan bisa menyumbang pelestarian budaya bangsa berupa batik Nusantara. ()