Produk sawit yang dikenal oleh sebagian masyarakat kita dalam bentuk minyak goreng, ternyata menjadi kebutuhan harian masyarakat dunia. Menafikan produk sawit merupakan sebuah pengingkaran terhadap anugerah Tuhan.
Minyak sawit merupakan komponen serbaguna yang sangat dibutuhkan berbagai produk. Minyak sawit dipakai oleh berbagai industri berskala internasional sebagai salah satu bahan baku untuk memproduksi beraneka macam produk, seperti makanan, perlengkapan mandi, kosmetik hingga energi.
Buku the Myths vs Facts edisi keempat terbitan PASPI bersama BPDPKS, memberikan gambaran dan alur bagaimana manusia tidak bisa melepaskan diri dari kebutuhan minyak sawit. Dari bangun pagi hingga tidur, begitu banyak manusia di atas dunia ini tidak sadar selalu menggunakan aneka produk yang memiliki komponen sawit.
Konsumen di pagi hari, misalnya, menggunakan minyak sawit yang ada pada produk-produk perlengkapan mandi seperti sabun, sampo, body lotion, pasta gigi, sabun muka, serta busa untuk cukur rambut. Masih lagi ada produk pembersih lain seperti detergent untuk mencuci, untuk perawatan serta kecantikan ada sunscreen, serum, lipstick, foundation dan banyak lagi.
Saat makan pagi, tidak jarang juga menggunakan produk yang mengandung minyak sawit seperti minyak goreng, krimer, roti, sereal, susu dan biskuit. Sedikit siang, menuju ke tempat sekolah atau di saat kerja, komponen minyak sawit juga menyertai.
Masih dalam buku the Myths vs Facts, banyak manusia menggunakan biodesel untuk kendaraan, menyeruput kopi dengan krimmer, serta menggunakan kertas berbahan dari sawit. Siang menuju sore, konsumen juga masih bisa saja tergantung dari produk dari sawit seperti saat mengkonsumsi suplemen, es krim dan aneka aneka roti. Di malam hari, selain unsur makanan, sawit juga hadir menjadi komponen vitamin hingga krim malam.
Itulah mengapa, buku di atas memberikan gambaran secara jelas bahwa minyak kelapa sawit menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan harian manusia dari bangun tidur hingga tidur kembali. Minyak kelapa sawit mendukung kehidupan manusia secara lebih baik.
Sementara itu, sebagaimana dilansir kantor berita Antara (15/7/22), sejak dua tahun lalu Kementerian Perindustrian terus mengembangkan mesin olah limbah sawit menjadi bahan baku kertas. Bahan baku tersebut berupa limbah sawit berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang pada tahun 2022 saja diproyeksikan jumlahnya mencapai 51 juta ton. Langkah itu diharapkan dapat mengatasi permasalahan bahan baku kertas daur ulang yang masih impor.
Sebenarnya pengembangan Kemenperin ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang bermitra dengan perusahaan Jepang PIC Co Ltd dab Taizen Co Ltd, yang bergerak di bidang manufaktur serta penjualan mesin industri dan kertas (BorneoNews 10/02/20).
Sebagaimana dilansir berbagai media, sampai saat ini hilirisasi sawit yang dilakukan oleh Indonesia baru mencapai 179 produk. Pengembangan SDM dan teknologi perlu dipercepat karena diperkirakan masih ada 30 persen potensi sawit yang belum termanfaatkan dengan baik. (MAS)