Seorang nenek di Desa Mata Pao, Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai tinggal bersama cucu perempuannya di sebuah rumah tua. Kedua anaknya merantau dan hanya sesekali bertandang mengunjungi. Tiga tahun belakangan hidupnya bergantung pada lidi pelepah sawit yang dibuang.
[caption id="attachment_3700" align="alignnone" width="900"]

Foto: Suasana sekitar rumah di samping kawasan kebun sawit[/caption]
Mata Pao bisa dikatakan sebagai desa yang unik. Letaknya persis di pinggir hutan sawit yang sangat lebat. Rumah-rumah disana banyak yang merupakan rumah dinas perusahaan yang diperuntukkan bagi pada mandor dan pekerjanya, plus rumah-rumah penduduk yang mendapatkan izin pendirian oleh pemilik kebun. Tidak heran, jalanan tidak beraspal, beda dari desa pada umumnya. Bila hujan tiba maka kendaraan yang lewat akan bermandikan lumpur. Manakala malam datang, hanya kesunyian yang menggelayut, sesekali ditingkahi suara jeritan tikus yang diterkam burung hantu.
Gigi nenek Suriyanti sudah hampir tanggal semua. Hanya tersisa di bagian depan yang tampak putih kecoklatan saat tertawa. Kulitnya sudah mulai keriput dimakan usia yang ia sendiri tak ingat pasti berkepala berapa. Meskipun demikian, ia masih bergincu tebal, mungkin sebagai penanda di masa mudanya ia pernah menjadi kembang desa. Di umurnya yang lumayan renta, nenek ini harus bekerja seorang diri. Kiriman uang dari anaknya hanya sesekali lewat menyapa. “Dia kirim uang kalau ada sisa saja,” ujarnya.
[caption id="attachment_3693" align="alignnone" width="900"]

Foto: Nenek Suriyanti tersenyum[/caption]
Untuk menghidupi diri dan cucunya, nenek Suriyanti setiap pagi selalu pergi ke hutan sawit di sekitar rumahnya. Ia mengikuti jejak langkah para pekerja yang memotongi dahan dan pelepah pohon sawit agar bisa tumbuh lebih sehat lagi. Pelepah-pelepah yang dijatuhkan dari ketinggian 7 meter itu seolah berkah dari Tuhan yang maha pemberi rezeki kepada siapapun. Nenek itu selalu setia menunggu di samping pohon yang sedang dirapikan tanpa memperdulikan semak belukar tempat persemayaman aneka binatang melata seperti ular kobra.
[caption id="attachment_3695" align="alignnone" width="900"]

Foto: Nenek Suriyanti sedang memotong pelepah sawit[/caption]
“Hidup saya memang sangat tergantung pada kebaikan pohon-pohon sawit. Seandainya disini tidak ada hutan sawit, bagaimana nasib saya ini,” ujar Suriyanti sambil tangannya mengayunkan parang untuk memotong bagian pelepah yang dianggap tidak bisa dimanfaatkan lagi. Ia hanya memilih bagian-bagian dimana lidi-lidinya cukup kuat dan panjang sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan sapu lidi, piring dan aneka keperluan keluarga lainnya.
Kedua tangannya terlihat cekatan membersihkan dedaunan dari lidi-lidinya yang kecil itu. Dalam waktu kurang dari lima menit, ia bisa bereskan satu pelepah dari sawit yang dibuang tersebut dan menghasilkan kisaran 50an lidi. Ia tidak pernah lupa untuk mengumpulkan daun-daun yang berserakan untuk dijadikan satu di dekat pokok pohon agar kemudian hari menjadi pupuk bagi pohon-pohon sawit di sekitarnya.
[caption id="attachment_3694" align="alignnone" width="900"]

Foto: Proses pembersihan lidi sawit[/caption]
Sang nenek terus mengikuti kemana pun pekerja sawit itu pergi. Meski ia hanya seorang perempuan tua di tengah hutan sawit, dikelilingi pekerja yang semuanya laki-laki, ia tidak pernah merasa takut. Dari pagi hingga matahari persis di atas ubun-ubun, sang nenek terus berada di bawah pohon-pohon sawit sambil menunggu jatuhnya pelepah yang membawa berkah. Kaki-kaki kecilnya terus melangkah diantara semak belukar.
Bagi orang kota, hasil kerja seharian yang dilakukan nenek Suriyanti sungguh tidak seberapa. Satu kilogram lidi ia jual dengan nilai Rp 5000. Dalam sehari, ia paling banyak bisa mengumpulkan kisaran 5 kilogram lidi, alias ia mengantongi Rp 25 ribu. Jumlah yang katanya cukup untuk makan satu keluarga dengan cara yang sangat sederhana.
Nenek Suriyanti bukanlah satu-satunya yang mendapatkan limpahan berkah sawit dari pelepah yang dicampakkan demikian rupa. Lidi-lidi dari tangan Suriyanti akan dianyam oleh puluhan tangan terampil lainnya untuk menjadi berbagai macam kerajinan, termasuk sapu, piring anyaman, keranjang parsel buah, vas bunga dan produk bernilai lainnya. Berkah sawit mengalir dari hulu sampai hilir. ()