Menjelang penghujung bulan lalu (24/5), Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengunjungi lahan sawit di pulau Carey, Selangor, Malaysia. Wajahnya tampak berseri dan bahagia sekali. Menurutnya, para pekerja asal Lombok di perkebunan tersebut tergolong senang dan bahagia.
Kunjungan yang kemudian dilansir di laman Pemerintah Propinsi NTB (ntbprov.go.id) tersebut, memberikan pemahaman tersendiri bagi sang gubernur bahwa perkebunan sawit ternyata baik dan memberikan kesejahteraan rakyatnya. Ia melihat banyak rumah-rumah pekerja di tengah ribuan hektar perkebunan sawit dihuni para imigran asal Lombok yang bertalenta. Kunjungan Gubernur disambut rakyatnya sangat meriah.
Dalam kunjungan itu, Gubernur Zul sempat bincang-bincang dengan salah satu pekerja yang bernama Pak Supriyadi. Pekerja asal Lombok Timur yang sudah belasan tahun bekerja disana itu mengaku bisa mendapatkan penghasilan bulanan hingga Rp 15 juta. “Alhamdulillah, semua kompak, semua sehat dan bersemangat,” ujar Zul berbinar.
Cerita tentang pendapatan yang tinggi di Malaysia itulah yang antara lain menjadi magnet, kisaran 20 ribu pekerja Indonesia kini bekerja di perkebunan sawit Kalimantan Utara, wilayah Malaysia. Mereka, dibolehkan membawa keluarga sehingga kemudian beranak-pinak di tengah perkebunan. Kerjasama antara Indonesia dan Malaysia akhirnya memunculkan aneka CLC (Community Learning Centre), tempat anak-anak keturunan Indonesia itu belajar, sehingga tidak terlalu tertinggal dengan pembelajaran teman-teman mereka di kampung halaman asal (ntbprov.go.id).
Sebenarnya, cerita tentang pendapatan yang lumayan di perkebunan sawit itu juga terjadi di tanah air, Indonesia. Sebuah studi empiris yang dilakukan oleh Qaim (2020) dan Chrisendo (2019) misalnya, mengkonfirmasi bahwa kenaikan pendapatan petani dan lingkungan sawit telah meningkatkan kebutuhan kalori mereka. Dikatakan, terpenuhinya nutrisi telah mengurangi secara signifikan tingkat manultrisi, meningkatkan kualitas pangan, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi keluarga petani kelapa sawit. Yang menarik lagi, orang-orang desa yang bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung dengan industri sawit, juga menaguk keuntungan yang tidak sedikit. Pendapatan dan tingkat daya beli mereka naik sehingga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Peningkatan keuangan sebagai dampak dari kenaikan pendapatan serta ketersediaan pangan telah menumbuhkan akses pangan yang lebih mudah bagi para petani sawit dan masyarakat sekitarnya. Itulah mengapa, buku the Myths vs Facts edisi keempat yang diterbitkan oleh PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute), akhirnya menyimpulkan bahwa para petani sawit dan masyarakat sekitarnya diperkirakan tidak akan mengalami krisis pangan.
Tidak hanya itu, dalam sebuah penelitian terhadap pendapatan petani kelapa sawit pola swadaya di Desa Saham, Sengah, Kabupatan Landak yang dilakukan oleh Susilawati, Erlinda Yurishintae dan Novira Kusrini pada Maret-April 2020 yang diterbitkan pada Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Universitas Brawijaya (Volume 6, tahun 2022), menunjukkan bahwa petani sawit yang menjadi responden, mampu meraup Rp 11.608.761/Ha/Tahun, atau minimal Rp 7.739.174/Ha/Tahun. Perlu dicatat, petani sawit itu rata-rata memiliki lahan kisaran 5 hektar. Ini berarti, per tahun mereka mampu meraup sekitar Rp 50 juta. Dengan manajemen yang lebih baik diperkirakan pendapatan akan jauh lebih tinggi.
Penelitian lain yang dibahas di dalam jurnal sosial ekonomi pertanian tropis Joseta (diterbitkan 2022) tentang pendapatan rumah tangga petani yang tergabung dalam kelompok KSU Bina Tani Sejahtera, Kabupaten Pasaman Barat, turut mendukung fakta di atas. Rata-rata pendapatan rumah tangga petani yang melakukan replanting sebagian lahannya yaitu Rp.113.984.470,59/tahun atau Rp.9.498.705,88/bulan. Sekadar perbandingan, UMR DKI, atau yang tertinggi di Indonesia di saat itu (2022) sebesar Rp 4.641.854.
Jadi bagaimana, mau jadi pegawai pabrik atau petani sawit?()