Ada kabar baik lagi yang datang lagi dari benua Biru. Sebulan sebelum rilis film dokumenter “Palm Oil in the Land of Orangutan”, ternyata telah terbit buku “Not the End of the World”. Kalau film dokumenter tentang harmoni kelapa sawit dan orangutan itu dibuat orang Denmark, maka buku hasil riset ini ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Skotlandia, Hannah Ritchie, peneliti senior Universitas Oxford.
[caption id="attachment_3032" align="alignleft" width="300"]
Hannah Ritchie[/caption]
Berbeda cara pandang penulis lain, goresan Hannah tentang lingkungan tidak bernada pesimistis. Bukunya tidak berisi argumen-argumen yang membuat umat manusia khawatir dengan masa depan planet bumi. Sebaliknya, karya Hannah justru menghadirkan wawasan baru kepada pembaca tentang capaian signifikan umat manusia dalam mengatasi masalah-masalah alam, termasuk peran penting industri sawit dalam menjaga pelestarian lingkungan.
Berangkat dari riset mendalam berdasarkan data dan fakta, Hannah membantah tuduhan banyak pihak bahwa sawit sebagai penyebab utama deforestasi di muka bumi. Riset Hannah justru mengungkap sawit yang membantu efisiensi lahan tanaman sumber minyak nabati. Artinya, perkebunan sawit dianggap relatif mumpuni dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati bagi umat manusia.
Hannah berkilah bahwa sawit merupakan tanaman sumber minyak nabati yang produksinya jauh lebih efisien dibanding tanaman lainnya seperti kedelai dan zaitun. Fakta lain yang diungkap bahwa 75% penyebab deforestasi adalah konversi hutan primer menjadi pertanian dan peternakan, dimana peternakan menjadi sebab terbesar. Temuan ini secara tidak langsung menegaskan bahwa masalah deforestasi perlu dipahami secara holistik. Tidak hanya terpaku pada industri sawit.
Menariknya lagi, seperti yang ditulis di website Malaysian Palm Oil Council (MPOC), buku “Not the End of the World” juga memberikan solusi-solusi bijak terkait penanganan deforestasi global. Seperti contoh, buku tersebut mendorong terciptanya kolaborasi global yang mencakup peternakan sapi dan perkebunan kedelai di Amerika Selatan, hasil panen di Afrika Sub-Sahara, dan kelapa sawit di Asia Tenggara. Dengan begitu, penyelesaian masalah tidak hanya terfokus pada sawit semata.
Lainnya, Hannah juga tidak sepakat dengan reaksi emosional seperti upaya pemboikotan sawit. Karena yang diperlukan justru mendorong sertifikasi minyak sawit berkelanjutan untuk memastikan praktik yang bertanggungjawab di seluruh rantai pasok.
IPOSS bersyukur mulai munculnya karya-karya dari Barat yang menjelaskan fakta tentang industri sawit berdasarkan riset mendalam. Kini saatnya para pihak terkait mempublikasikannya dengan kemasan kreatif. Film dokumenter, buku populer, buku dengan visual menarik, bahkan buku cerita anak bergambar, hingga konten-konten media sosial, perlu dipertimbangkan sebagai media diseminasi informasi yang lebih mudah diterima publik. ()