Minyak Makan Merah (M3) yang diolah tanpa melalui proses penyulingan (
bleaching dan deodorisasi) bisa menjadi solusi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Harga jual M3 lebih terjangkau dari harga minyak goreng biasa. Dengan subsidi, diberitakan, harga M3 bisa hanya Rp 8 ribu per liter.
Illustrasi Minyak Makan Merah
Produk M3 juga berdampak langsung pada perekonomian petani sawit yang dapat mengolah hasil panen mereka menjadi barang jadi. Apalagi bila pabrik pengolahan M3 dibangun di daerah-daerah terpencil dan dikembangkan secara paralel dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Hal tersebut dapat mendorong terciptanya kemitraan yang kuat antara petani sawit dan PKS yang dapat memberdayakan UMKM-UMKM. Selama ini karena Tandan Buah Segar (TBS) dibawa ke kota, petani menjadi ralatif kurang memperoleh nilai tambah.
M3 memang memiliki warna merah yang mencolok dengan aroma yang lebih kuat. Tetapi itu tidak mengurangi fungsi dari M3 sebagai alternatif minyak goreng biasa. Kualitas M3 sudah diuji oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan terbukti aman dengan suhu tinggi (
deep fried 175 derajat Celcius). Bahkan koki terkemuka, Chef Juna, memuji dari kualitas goreng M3.
Bukan sekadar harganya yang murah dan kualitas goreng yang sama dengan minyak biasa, ternyata M3 juga memiliki banyak keunggulan dari sisi kandungan gizi. M3 diklaim memiliki kandungan nutrisi yang terdiri dari oleat dan asam linoleate yang baik untuk perkembangan otak anak. Selain nutrisi, M3 juga kaya akan kandungan pro vitamin A dan antioksidan yang penting untuk sistem imun dan vitamin E yang berkontribusi pada kesehatan jantung.
Dengan kandungan yang dimilikinya, M3 dapat mengatasi permasalahan stunting yang terjadi di banyak wilayah pedesaan di Indonesia yang kekurangan gizi vitamin A dan E. Bahkan lebih jauh lagi, pengembangan M3 juga berpotensi dalam pengurangan ketergantungan Indonesia pada impor vitamin A dan E sintesis.
Dalam pandangan IPOSS selaku lembaga penelitian sawit dan advokasi kebijakan, dengan diperkenalkannya M3 secara resmi oleh Presiden Jokowi pada tanggal 14 Maret 2024 lalu, menjadi langkah baru yang positif dalam rangka hilirisasi produk sawit Indonesia. Diyakini bahwa sawit masih memiliki aneka kandungan yang belum terungkap hingga saat ini dan dapat memberi kontribusi yang signifikan bagi kesehatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa datang. ()