Sawit merupakan komoditas strategis yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional. Meski lahan sawit di Indonesia hanya seluas 16,4 juta hektar atau 8,5% dari daratan Indonesia, tetapi sawit memiliki kontribusi besar bagi Indonesia antara lain menambah devisa dari ekspor minyak sawit, menghemat devisa dari impor solar, menghadirkan kemandirian energi dan pangan serta penciptaan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung dari hulu ke hilir.
[caption id="attachment_3022" align="aligncenter" width="1024"]

ilustrasi kebun sawit (dok. canva)[/caption]
Komoditas yang telah eksis lebih dari 100 tahun ini, ternyata mampu berkontribusi besar dalam menggerakkan perekonomian nasional. Bersama produk pertanian lainnya, kelapa sawit mampu memberikan kontribusinya terhadap nilai PDB yakni 12,40%. Dinilai mampu karena komoditas ini dapat menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor industri. Sifatnya yang tahan oksidasi dengan tekanan tinggi dan kemampuannya melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, serta daya melapis yang tinggi membuat minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk beragam peruntukan, diantaranya yaitu untuk minyak goreng, minyak industri, maupun minyak bahan bakar (biodiesel).
Sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk memasarkan minyak sawit dan inti sawit, baik di dalam maupun luar negeri. Pasar potensial yang akan menyerap pemasaran minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) adalah industri fraksinasi/rafinasi (terutama industri minyak goreng), lemak khusus (
cocoa butter substitute), margarine/ shortening, oleochemical, dan sabun.
Selain itu, keunggulan lain dari industri sawit ini adalah sifatnya yang relatif padat karya. Uniknya, industri ini mampu berkembang di mana saja, alias mampu menyerap tenaga kerja lokal karena sifat pekerjaannya yang mudah dipelajari. Bahkan di perkebunan sawit, masyarakat pedesaan dapat terlibat secara langsung baik sebagai karyawan perusahaan perkebunan maupun petani sawit plasma atau swadaya. Tenaga kerja pedesaan juga terserap pada sektor ekonomi lain yang memiliki keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan perkebunan kelapa sawit seperti sektor perdagangan, transportasi dan pengangkutan, sektor makanan minuman, dan sektor lainnya.
Berdasarkan data Dirjenbun (2022), jumlah pekerja langsung pada perkebunan kelapa sawit pada tahun 2023 diperkirakan totalnya sebesar 7,1 juta pekerja yang terdiri dari 2,6 juta orang di perkebunan rakyat dan 287 ribu di perkebunan besar negara dan 4,2 juta pekerja di perkebunan besar swasta. Jumlah tersebut belum termasuk pekerja di sektor industri yang diperkirakan mencapai 160 ribu orang bekerja di lebih dari 1.600 pabrik, seperti pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, pabrik rafinasi, pabrik fraksinasi, pabrik minyak goreng dan pabrik biodiesel. Totalnya ada 7,26 juta pekerja langsung yang terlibat di industri sawit.
Tidak hanya pekerja langsung, ada lagi tenaga kerja tidak langsung yang mendapat manfaat dari industri ini, yakni mereka yang bergerak pada kegiatan pengangkutan TBS/CPO, pembibitan,
supplier pupuk dan alat-alat perkebunan,
supplier alat-alat kantor,
supplier beras untuk catu pekerja, maupun kegiatan lainnya yang terkait dengan pekerjaan teknis di kebun, kegiatan
community development dan CSR yang juga melibatkan tenaga kerja di luar perusahaan perkebunan.
Berdasarkan hasil perhitungan efek pengganda (
multiplier effect) industri sawit yang dianalisis dari Tabel Input-Output, diperoleh nilai indeks
multiplier tenaga kerja perkebunan sawit sebesar 2,64 (PASPI, 2023). Ini artinya perkebunan kelapa sawit mampu menciptakan kesempatan kerja dalam perekonomian nasional sebesar 2,64 kali dari tenaga kerja yang terserap dalam industri sawit. Oleh karena itu, diperkirakan total tenaga kerja yang terlibat di industri kelapa sawit adalah sebesar 19,2 juta pekerja, di mana di dalamnya terdapat pekerja tidak langsung sebesar 11,94 juta pekerja.
Tabel 1. Indeks Multipler Perkebunan kelapa sawit
| Dampak |
Indeks Multiplier |
| Output |
1,71 |
| Pendapatan |
1,79 |
| Tenaga Kerja |
2,64 |
| Nilai Tambah |
1,59 |
Sumber: Tabel I-O, Statistik Indonesia (2008)
Ditambahkan, Indonesia mempunyai prospek sangat baik untuk mengembangkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan, adanya keseimbangan antara
supply dan
demand yang terjaga secara harmonis di tingkat lokal maupun global membuat industri ini mampu bertahan lebih dari 100 tahun. Kini dilihat dari fungsinya, peran minyak kelapa sawit sudah semakin vital yang digunakan sebagai keperluan di setiap sendi kehidupan, hingga muncul slogan “
no palm oil, no life”.
Lembaga riset dan advokasi kebijakan sawit, Indonesia Palm Oil of Strartegic Studies (IPOSS) mencatat, bahwa meskipun bukan tanaman asli Indonesia, namun sawit telah menjadi berkah bagi bangsa Indonesia. Untuk itulah, keberadaan sawit harus tetap dipertahankan menjadi komoditi unggulan bersama, tempatnya jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan harapan penghidupannya. ()