Kelapa sawit disebut-sebut sebagai miracle crop yang memiliki nilai keekonomian yang sangat tinggi. Meskipun awalnya datang dari Afrika, ternyata berkembang sangat bagus di bumi katulistiwa. Manfaat yang tercipta pun terus meningkat dari waktu ke waktu, termasuk yang paling mutakhir berupa bioavtur.
Demikian sebagian pernyataan pendiri dan Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies, IPOSS, salah satu think tank kelapa sawit terkemuka di tanah air, saat diwawancarai oleh media Kumparan, 24 Juni 2024. Dikatakan, sawit punya peranan yang lebih luas sebagai komoditas penting dalam menyokong perekonomian Indonesia. Pada 2023, sawit menyumbang devisa yang cukup besar hampir Rp 500 triliun.
Selain itu, industri sawit membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar. Sofyan Djalil mengatakan, ada sekitar 18 juta rakyat Indonesia yang hidup dari sawit, baik langsung maupun tidak langsung. Alasan yang disampaikan Sofyan sangat gamblang, sebab 40 persen lahan sawit di Indonesia memang dimiliki petani. Sehingga secara ekonomi para petani ini bergantung pada lahan sawit. Di samping itu, tidak sedikit juga warga Indonesia yang bekerja pada aneka pabrik hilirisasi sawit dan distribusi produk turunannya.
Untuk itu, Pemerintah pun didorong untuk memberi perhatian lebih pada sawit dengan membuat kebijakan yang mendukung pengelolaan sawit secara baik. Kebijakan ini dirasa cukup penting karena isu sawit selama ini oleh Uni Eropa kerap disangkutpautkan dengan perusakan lingkungan.
Untuk membahas lebih jelas dan mendalam terkait isu sawit dan peranannya dalam menyokong perekonomian Indonesia, pemirsa bisa mengakses PODCASTLAB di YouTube kumparan dengan narasumber Pendiri dan Dewan Pengawas IPOSS, Sofyan Djalil, Selasa (9/7). Dalam kesempatan itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang 2016-2022 ini berbagi pandangan soal isu sawit dan peranannya bagi Indonesia dengan dipandu oleh Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad dan VP of Content Strategy and Innovation kumparan Ikhwanul Habibi. ()