Teknologi ditemukan untuk memudahkan kehidupan manusia. Namun bila tidak diantisipasi dengan baik justru akan menjadi ‘boomerang’. Perkembangan teknologi, terutama setelah adanya Artificial Intelligence (AI) pada industri sawit bisa saja menyebabkan PHK ribuan pekerja.
Peringatan penting di atas disampaikan oleh Ketua GAPKI bidang SDM dan Ketenagakerjaan, Sumarjono Saragih (7/4/24) sebagaimana disitir oleh bisnissawit.com. Menurutnya, perburuhan industri sawit yang bersifat padat karya semakin hari semakin mendapat sorotan, khususnya terkait dengan perkembangan teknologi alternatif yang digunakan. Baginya, efisiensi menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam persaingan namun pada saat yang sama dapat mengancam sejumlah pegawai.
Dijelaskan, sejauh ini, perburuhan pada pabrik sawit nyaris tidak ada gaungnya alias aman-aman saja, sorotan lebih banyak tertuju pada perburuhan perkebunan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Menurut Sumarjono, terdapat 1800 pabrik tempat pengolah tandan buah segar (TBS) dimana 58% berasal dari kebun perusahaan dan 42% dari kebun petani. Kalau saja satu pabrik mempekerjakan 200 orang maka di situ terdapat 360 ribu pekerja yang kemungkinan menanggung satu istri dan dua anak.
Seiring dengan penerapan AI pada pabrik sawit, disarankan untuk diterapkan dengan penuh kehati-hatian. Diperlukan ‘seni’ untuk menanggulangi dampak negatif dari kemajuan teknologi. Dalam sebuah aktivitas bongkar muat dan sortasi misalnya, AI diperkirakan mampu menghemat 75% pekerja, atau kalau sebelumnya dikerjakan 20 orang maka dengan AI hanya diperlukan 5 orang saja.
Menurut Deputi Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, sebagaimana dilansir pada laman Astra Agro Lestari (25/10/23), industri kelapa sawit Indonesia pada tahun 2022 telah menyerap 16,2 juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung. Dengan SDM yang demikian besar, Indonesia mampu memproduksi 52 juta ton minyak kelapa sawit (CPO) pertahun yang menjadikan Indonesia negara industri kelapa sawit terbesar di dunia.
Itulah mengapa, dalam 2nd TPOMI (technology & Talent Palm Oil Indonesia) 2024, yang akan dihelat di Bandung 18-19 Juli mendatang, antara lain akan membahas keterkaitan teknologi dan kesempatan kerja pada industri sawit. Diakui bahwa perkembangan teknologi pada industri sawit relatif pelan, namun pasti akan datang waktunya penggunaan teknologi AI untuk menciptakan efisiensi di tengah persaingan yang semakin sengit. ()