Sejak dilantik, 21 Oktober 2024 lalu, Presiden Prabowo terus menggelorakan kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Menteri Pertanian yang menjadi salah satu pemikul tanggungjawab hal tersebut terus berinovasi, antara lain dengan program penanaman padi gogo di kebun sawit, atau yang sering disebut intercropping. Bagaimana implementasinya? Apakah diperkirakan dapat menjadi solusi bagi peningkatan ketahanan pangan?
Tumpang sari padi gogo di kebun sawit ini sebenarnya ide yang strategis. Selama 3 tahun pertama penanaman sawit, petani sering mengeluh tidak adanya pendapatan yang tetap. Oleh karenanya, di saat pohon-pohon sawit itu masih pendek, padi gogo yang dikenal tidak membutuhkan banyak air itu bisa ditanam di sela-sela pohon sawit sehingga tetap bisa mendapatkan asupan sinar matahari dalam jumlah yang cukup. Sambil menunggu pohon sawit berbuah, padi gogo dapat berkontribusi bagi kesejahteraan petani.
Tidak hanya teori, namun tumpang sari ini sudah diujicoba cukup lama. Dalam laman Kementerian Pertanian (17/03/24), Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah bahkan sudah menyatakan bahwa pihaknya akan bertanggunggjawab untuk menyiapkan lahan dan perkebunan untuk kegiatan tumpang sisip (istilah lain dari tumpangsari) padi gogo sebagai salah satu upaya penambahan luas tanaman padi. Aksi kongkret ini juga mendapatkan dukungan dan arahan dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman terkait optimalisasi lahan rawa, pompanisasi lahan tadah hujan dan tumpang sisip padi gogo pada tahun anggaran 2024.
Sementara itu, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Adi Praptono menyebut, potensi luas area tanam padi gogo di Provisi Riau saja seluas 32.614 hektare. “Penanaman ini diharapkan dapat mendukung optimalisasi lahan perkebunan demi mendukung program penambahan luas tanaman pangan, khususnya padi gogo,” ujarnya dalam acara penanaman padi gogo di Kabupaten Siak, Riau, bersama Kelompok Tani Jaya Sakti seluas 8 hektare, medio maret lalu.
Dukungan terhadap ide tumpangsari ini juga datang dari kalangan BUMN. Dalam sebuah diskusi tentang intercropping di IPB, 19 November 2024, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, menyampaikan bahwa pemanfaatan lahan sawit PSR untuk intercropping padi gogo adalah inovasi strategis. Hal ini sejalan dengan komitmen PTPN dalam mendukung swasembada pangan nasional, sekaligus mengoptimalkan lahan perkebunan rakyat secara berkelanjutan.
Sementara itu, salah seorang ahli bidang sawit, Petrus Gunarso mengatakan bahwa tumpang sari pada awal masa awal penanaman sawit merupakan sebuah kemungkinan. Namun yang harus menjadi perhatian antara lain kesesuaian tanah bagi padi gogo sebab tiap tempat bisa jadi ada perbedaan unsur tanahnya. Petrus lebih menyarankan agar “tumpangsari” dilakukan dengan hewan ternak yang akan memakan rerumputan yang ada dan pada akhirnya juga menghasilkan pangan yang berguna bagi masyarakat.
Sampai saat ini memang belum ada hitung-hitungan pasti tentang potensi dari lahan kelapa sawit yang bisa ditanami padi gogo. Namun yang jelas, dari sekitar 17 juta hektare lahan sawit Indonesia, sebagian diantararanya telah berusia tua bahkan dalam proses replanting, sehingga selalu saja terdapat kesempatan untuk menyisipkan padi gogo di sela-sela tanaman muda antara 0-3 tahun pertama. Proses replanting tersebut setiap tahun selalu ada sehingga padi gogo merupakan sebuah inovasi yang cukup jitu bagi ketahanan pangan.
Dalam sebuah kalkulasi ilmiah, Prof. Suwarto, Guru Besar Departemen Agronomi IPB, bersama timnya memproyeksikan khusus dari lahan sawit rakyat, rata-rata setiap tahunnya terdapat 215.528 hektare kebun yang perlu diremajakan. Dengan simulasi setiap hektare lahan peremajaan sawit rakyat (PSR) dapat menyediakan ruang terbuka/gawangan seluas 2500 – 3000 meter persegi, maka setiap tahun diperkirakan tersedia 53.882 – 64.658 hektare untuk padi gogo. Adapun perkiraan potensi produksi padi selama 2 tahun atau 5 kali panen dapat mencapai 510.595 ton gabah kering giling.
Untuk mencapai tata kelola yang baik, Ketua Kelompok Tani Jaya Sakti mengingatkan Pemerintah agar memperhatikan benih padi gogo dan sarana produksi pertanian (saprodi) lainnya, seperti pupuk dan pestisida agar produksinya dapat meningkat. Dalam hal ini, Pemerintah cepat memberi tanggapan agar para kelompok tani segera mengajukan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) agar dapat dialokasikan bantuan benih dan saprodi sehingga penanaman dapat disegerakan. ()