Tiga koperasi petani swadaya yang beranggotakan 600 orang petani berhasil meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Bangkok, Thailand. Capaian ini membuktikan kemampuan petani sawit swadaya untuk memproduksi kelapa sawit berkelanjutan, sebagaimana tuntutan pasar global. Hal ini juga sekaligus menepis anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang mampu memenuhi standar tersebut.
Sertifikasi ini diterima oleh petani sawit yang tergabung dalam tiga koperasi di bawah naungan SPKS, yaitu: Koperasi Produsen Karya Desa Mandiri dari Kabupaten Labuhanbatu, Sumut; Koperasi Makmur Barokah Belutu dari Kabupaten Siak, Riau; Koperasi Produsen Usaha Bersama Tunas Merapi Manunggal dari Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Ketiga koperasi ini tergabung dalam Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).
Ketua Umum SPKS, Sabarudin, dilansir dari laman berita Antara (15/11/24) menegaskan bahwa petani kelapa sawit Indonesia memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan yang selaras dengan tuntutan pasar internasional. Secara keseluruhan, hingga kini dibawah naungan SPKS terdapat 12 koperasi yang telah mengimplementasikan sertifikasi RSPO dan ISPO, melibatkan total 2.300 petani dengan luas lahan sekitar 3.500 hektare.
Sebagai informasi, berdasarkan data dari situs resmi RSPO, hingga tahun 2023, Sertifikasi RSPO telah melindungi lebih dari 466.600 hektar hutan HCV dan HCS. Secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan ekosistem penting lainnya, secara global sertifikasi RSPO juga telah berhasil melindungi dan memulihkan sekitar 646.700 hektar hutan dan kawasan berharga termasuk lahan gambut dan kawasan lindung tepi sungai.
Namun demikian, dalam suksesi praktik kelapa sawit berkelanjutan tidak sedikit petani yang mengeluhkan besarnya biaya untuk implementasinya. Dukungan dari perusahaan besar, termasuk anggota RSPO, yang selama ini mendapatkan keuntungan signifikan dari industri sawit nasional dinilai masih minim. Demikian pula dukungan dari pemerintah juga dinilai belum optimal.
Tanpa dukungan nyata dari pemerintah dan perusahaan, petani sawit Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam memenuhi standar keberlanjutan. Sebagai penghasil utama kelapa sawit dunia, Indonesia dituntut untuk meningkatkan praktik keberlanjutan guna menanggulangi dampak lingkungan. Namun, petani kecil yang menjadi tulang punggung industri kelapa sawit nasional sering kali kekurangan akses terhadap teknologi dan modal untuk beralih ke praktik yang berkelanjutan.
Hanya dengan kolaborasi berbagai pihak, target Indonesia untuk membuktikan diri sebagai pemasok utama kelapa sawit yang berkelanjutan akan tercapai. Dengan ini para petani kecil juga menjadi tidak rentan saat menghadapi dinamika tuntutan pasar global seperti aturan EUDR yang diterapkan Uni Eropa. ()