Jurnal ini membahas kesenjangan harga TBS kelapa sawit antara Indonesia dan Malaysia serta dampaknya terhadap kesejahteraan petani kecil. Melalui tinjauan literatur kualitatif atas studi 2020–2026, laporan industri, dan dokumen kebijakan, kajian ini menemukan bahwa pada 2019–2023 petani Malaysia rata-rata menerima harga TBS 58,1% lebih tinggi dibanding petani Indonesia. Perbedaan utama dipengaruhi oleh sistem harga: Malaysia menggunakan formula MPOB yang lebih transparan, sementara Indonesia masih menghadapi kompleksitas K-index yang bervariasi antarwilayah. Faktor lain mencakup infrastruktur, posisi tawar petani, kualitas grading, koperasi, dan lambatnya peremajaan. Studi ini merekomendasikan reformasi transparansi harga, penguatan koperasi, perbaikan logistik, dukungan replanting, dan pembiayaan sertifikasi agar kesejahteraan petani dan keberlanjutan sawit meningkat.