Dekarbonisasi penerbangan membutuhkan Sustainable Aviation Fuel (SAF), tetapi Indonesia perlu memilih jalur teknologi yang paling sesuai dengan kondisi nasional. Studi ini membandingkan berbagai jalur SAF melalui kajian literatur kualitatif berdasarkan kesiapan teknologi, ketersediaan dan harga bahan baku, investasi, batas pencampuran, emisi daur hidup, infrastruktur, kebijakan, serta penerimaan pasar. Hasilnya menunjukkan HEFA paling layak untuk pengembangan jangka pendek karena matang secara komersial dan kompatibel dengan kilang yang ada, terutama jika memakai limbah dan residu yang terlacak. ATJ dinilai menjanjikan untuk diversifikasi jangka menengah, sedangkan FT penting bagi skala jangka panjang. Implikasinya, Indonesia memerlukan strategi bertahap dengan standar keberlanjutan, insentif berbasis emisi, penguatan rantai pasok, dan integrasi dengan pasar SAF global.