Kontribusi Industri Sawit dalam Upaya Dekarbonisasi Sektor Penerbangan: Sebuah Update Perkembangan
Policy Briefs and Papers

Kontribusi Industri Sawit dalam Upaya Dekarbonisasi Sektor Penerbangan: Sebuah Update Perkembangan

Terbit 18 September 2025
322 dilihat
Unduh versi BahasaVersi English belum tersedia
Indonesia memiliki potensi strategis untuk menjadi produsen utama Sustainable Aviation Fuel (SAF) global, seiring perannya sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia. Dengan produksi tahunan sekitar 50 juta ton CPO dan jutaan ton produk samping serta limbah, industri sawit Indonesia menyimpan cadangan bahan baku melimpah untuk berbagai jalur konversi SAF yang telah diakui secara internasional. Terdapat tiga jalur teknologi utama yang sesuai dengan karakteristik hasil olahan kelapa sawit:
  1. Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA), jalur paling matang secara komersial, cocok untuk bahan baku seperti CPO, PFAD, RBDPKO, minyak POME, dan UCO.
  2. Alcohol-to-Jet (ATJ), menggunakan gliserol serta biomassa sawit (seperti tandan kosong, pelepah, dan batang) yang difermentasi menjadi bioalkohol.
  3. Fischer-Tropsch (FT), mengonversi biomassa sawit melalui gasifikasi menjadi syngas, lalu disintesis menjadi bahan bakar jet berkualitas tinggi.
Data menunjukkan potensi total bahan baku SAF dari industri sawit Indonesia dapat mencapai lebih dari 470 juta ton per tahun, termasuk produk utama, sampingan, dan limbah. Beberapa bahan baku seperti PFAD (20,7 gCO2e/MJ) dan UCO (13,9 gCO2e/MJ) telah diakui oleh ICAO memenuhi standar CORSIA karena nilai emisinya yang rendah. Sementara itu, bahan baku seperti CPO hanya dapat dianggap berkelanjutan jika diproses menggunakan teknologi methane capture untuk menekan emisi. Indonesia juga telah secara aktif mengusulkan pengakuan minyak dari POME sebagai bahan baku SAF ke ICAO. Proses ini melibatkan kerja sama lintas kementerian, pelibatan pakar LCA, dan pendampingan teknis dari mitra internasional. Langkah ini sangat penting agar potensi bahan baku dari limbah sawit dapat diakui secara global dan memperoleh nilai emisi default yang kompetitif. Dengan infrastruktur industri sawit yang telah berkembang, dukungan kebijakan pemerintah, dan meningkatnya kebutuhan SAF global, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin pasar SAF berkelanjutan berbasis kelapa sawit. Perluasan riset, percepatan pengembangan teknologi konversi, dan penguatan posisi dalam forum internasional menjadi kunci keberhasilan strategi ini. Download here

Baca laporan

Buka PDF di tab baru
Buka PDF